Wapres Iran Bantah Konflik Sunni-Syiah

Rizky Dewantara    •    Rabu, 02 May 2018 11:22 WIB
konferensi ulama
Wapres Iran Bantah Konflik Sunni-Syiah
Wakil Presiden Republik Islam Iran Bidang Wanita dan Urusan Keluarga Masoumeh Ebtekar. (ANT/Yulius Satria Wijaya)

Bogor:  Wakil Presiden Republik Islam Iran Bidang Wanita dan Urusan Keluarga Masoumeh Ebtekar menyatakan, penganut Sunni dan Syiah di Iran bisa berjalan berdampingan tanpa konflik. Menurut dia, sejak Iran berdiri tidak ada konflik antara Sunni dan Syiah. 

"Sunni dan Syiah sudah tinggal bersama di berbagai daerah di Iran, banyak dari mereka menikah, jadi kami tidak memiliki masalah," ungkap Ebtekar, saat ditemui di Hotel Novotel Bogor, Jawa Barat, Selasa, 1 Mei 2018.

Ebtekar menegaskan, masalah yang terjadi di negara Islam berasal dari adanya pandangan yang diciptakan oleh musuh Islam. Bukan berasal dari Sunni dan Syiah. Dia mencontohkan, adanya negara dan sekutu yang menciptakan perpecahan di antara muslim dan menghasut dengan kebencian. 

"Mereka mendukung sejumlah negara, mereka mendukung terciptanya Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) yang sangat menyimpang dari Islam. Kegiatan dan ajaran mereka (ISIS) sebenarnya tidak ada kaitanya dengan ajaran Islam, mereka mencoba mencitpakan perpecahan di antara muslim," akunya.

Ia menambahkan, mereka mencoba menunjukan versi yang menyimpang dari Islam untuk menciptakan perpecahan di antara muslim. Selain itu, juga menciptakan gambaran yang buruk mengenai Islam. 

"Mereka menyampaikan kepada dunia bahwa Islam adalah ajaran penuh kekerasan, kebencian, brutal, yang sejatinya tidak sesuai dengan Islam, dan ini tidak ada hubungan dengan Sunni dan Syiah," paparnya.

Dia mengatakan, isu itu didorong oleh dunia luar dan harus dihindari umat muslim. Dia menyatakan, muslim harus berdiri bersama baik Sunni dan Syiah. Semua muslim harus mendukung dunia yang saling menghargai, bahkan dari agama lain.

"Kita harus bangkit dan melawan ekstrimisme, radikalisme, melawan terorisme baik itu mencatut nama agama atau perdamaian atau kebebasan, ini adalah masalah yang kita hadapi saat ini," kata dia.


(LDS)