Mengulik Konflik 'Tanah Helikopter' Rumah Eko

   •    Sabtu, 15 Sep 2018 10:13 WIB
sengketa tanah
Mengulik Konflik 'Tanah Helikopter' Rumah Eko
Rumah eko tertutup dinding tembok tetangga. (Foto: Istimewa)

Jakarta: Kediaman Eko Punomo warga Ujungberung, Kota Bandung, Jawa Barat, yang tak memiliki akses keluar masuk lantaran tertutup tembok tetangga menjadi viral sepekan belakangan. 

Rupanya, konflik 'tanah helikopter' milik orang tua Eko sudah berlangsung selama dua tahun terakhir namun hingga hari ini belum ada solusi terbaik yang bisa dihasilkan.

Menilik kasus Eko, Pakar Agraria Safran menduga persoalan utama yang membelit Eko adalah kecurigaan akan adanya persoalan dalam penerbitan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) milik tetangganya yang secara langsung menutup akses kediaman Eko menuju fasilitas umum (fasum) dan fasilitas sosial (fasos).

"Dari IMB itu diteliti Pemda setempat apakah pembangunanya layak atau tidak. Melanggar saana prasaran, fasum fasos atau tidak, ada jalur hijau tidak, kalau tidak sesuai ya harusnya tidak diizinkan," ujarnya dalam Metro Pagi Primetime, Sabtu, 15 September 2018.

Klik: Rumah Eko Terkurung Dinding Tetangga

Safran mengatakan terkadang penerbitan IMB tidak sesuai dengan rencana tata ruang wilayah sehingga kerap menimbulkan masalah. Persoalan berikutnya menjadi semakin pelik manakala pengawasan cenderung lemah bahkan sama sekali tidak dilakukan.

Ketika hal ini terjadi pihak pertama yang harus turun tangan adalah Badan Pertanahan Nasional (BPN). BPN berwenang menerbitkan sertifikat tanah sampai dengan pengukuran suatu tanah dengan tidak mengorbankan fasum atau fasos yang berada di sekitarnya.

"Jadi kalau masuk ke areal fasilitas umum, umpamanya jalan, seharusnya enggak boleh dibuatkan sertifikat. Jalurnya harus komunikasi dari RT, RW, kelurahan, kecamatan, pemda setempat, sampai BPN. Sementara kalau memang harus dibongkar, itu urusannya pemda, bukan BPN," jelas dia.




(MEL)