Nadzoman Serempak di Purwakarta Pecahkan Rekor MURI

Reza Sunarya    •    Selasa, 24 Oct 2017 07:56 WIB
berita purwakarta
Nadzoman Serempak di Purwakarta Pecahkan Rekor MURI
Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi (Foto:Reza Sunarya)

Metrotvnews.com, Purwakarta: Peringatan Hari Santri Nasional tingkat Kabupaten Purwakarta ditandai dengan pemecahan Rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) kategori pembacaan nadzoman dengan peserta terbanyak dan serempak.

MURI yang diwakili oleh manajer Triyono mencatat, tak kurang dari 15 ribu peserta membacakan nadzom dalam bahasa Sunda. Kegiatan ini dilaksanakan pada Senin, 23 Oktober 2017 malam, di  Taman Pesanggrahan Padjadjaran di bawah guyuran hujan deras.

“Ini pertama kali di Jawa Barat, pertama kali di Indonesia, sebanyak 15 ribu orang membacakan nadzom secara serempak,” ujar Triyono.

Ia juga menyebut bahwa ini merupakan pelafalan syair dalam bahasa daerah yang pertama kali diselenggarakan. Faktor ini menjadikan alasan tersendiri, nadzom serempak dicatatkan sebagai rekor MURI.

“Bukan hanya terbanyak, ini unik dan pertama kali menggunakan bahasa daerah, dalam hal ini bahasa Sunda,” katanya.

Untuk diketahui, nadzom merupakan kosa kata yang berasal dari bahasa Arab yang berarti syair yang memiliki keteraturan dalam rima yang sudah ditentukan oleh penyair. Dalam sastra Arab terdapat beberapa pengaturan rima dan irama yang disebut dengan bahar. Di antaranya, bahar rojaz, bahar basith, dan bahar kamil.

Sementara dalam terminologi Sunda, nadzom dikenal sebagai syair yang berisi ajaran tentang falsafah yang mendorong pembacanya untuk berbuat baik dan tidak melanggar ajaran agama Islam yang sudah digariskan. Iramanya ada yang ditentukan secara bebas, ada pula yang diselaraskan dengan seni Sunda atau Jawa seperti laras pelog dan salendro.


Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi (Foto:Reza Sunarya)

Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi memiliki tujuan tersendiri menghidupkan kembali nadzoman di kalangan santri. Ia berpendapat, selain merupakan ciri khas santri, nadzom juga berisi tentang petuah akhlak mulia yang harus dijalankan dalam kehidupan sehari-hari.

“Ini harus menjadi ciri khas santri zaman sekarang, zaman now kalau anak muda bilang. Jadi sebelum waktu salat tiba, mereka harus melafalkan nadzom, jangan diganti dengan rekaman mp3 yang diputar berulang-ulang. Feel-nya enggak masuk. Transformasi nilai akhlak yang ada dalam nadzom tidak bisa dilakukan,” jelasnya.

Kiai Mustofa Bisri atau akrab disapa Gus Mus menjadi inspirasi untuk menjadikan akhlak sebagai tujuan utama dalam kehidupan beragama. “Gus Mus selalu mengatakan bahwa tujuan agama itu untuk menyempurnakan akhlak. Saya kira nadzom harus menjadi media untuk itu,” ujarnya.


(ROS)