Paslon Perseorangan Ini Rela Lewatkan Pilwalkot Bandung

Roni Kurniawan    •    Kamis, 30 Nov 2017 19:38 WIB
pilkada 2018
Paslon Perseorangan Ini Rela Lewatkan Pilwalkot Bandung
Bakal pasangan calon Pilwakot Bandung 2018 jalir perseorangan, Oktri Muhammad Firdaus (kiri) - Dika Chrisna (kanan).

Bandung: Pasangan calon pada Pilwalkot Bandung melalui jalur perseorangan atau independen yakni Oktri Muhammad Firdaus-Dika Chrisna legowo tidak lolos verifikasi oleh KPU Kota Bandung. Padahal pasangan tersebut mengklaim telah mendapat dukungan lebih dari 110 ribu KTP.

Hal itu diakui Calon Wali Kota Bandung dari jalur independen Oktri yang telah berhasil mengumpulkan dukungan sebanyak 112.723 KTP dari 30 kecamatan di Kota Bandung.

"Kami telah mengumpulkan dan menyerahkan dukungan tersebut ke KPU kemarin sekitar pukul 21.40 WIB ke KPU," kata Oktri saat ditemui di kawasan Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Kamis 30 November 2017.

Baca: Pilwalkot Bandung Tanpa Calon Perseorangan

Namun diakui Oktri, berkas dukungan KTP yang diserahkan ke KPU berupa softcopy. Pasalnya ia menggunakan teknologi yakni aplikasi pesan singkat untuk mengumpulkan dukungan itu.

"Di data based kita jumlahnya segitu. Jadi kita bawa berkasnya melalui softcopy yang ada di databsed kita, itu juga sudah melalui filter beberapa kali," tutur dia.

Namun KPU upaya tersebut tidak diterima KPU. Pasalnya sesuai dengan peraturan KPU, setiap pasangan calon melalui jalur independen harus melampirkan berkas fisik dukungan yakni fotokopi KTP sesuai dengan jumlah yang ditentukan minimal 110.213 suara dukungan.

"Tapi KPU tetap meminta hardkopi fotokopi KTP itu dan kami tidak menyertakannya. Karena kami pikir ini lebih efektif, tinggal menyelaraskan. Karena kami juga sudah mendapatkan Silon (sistem informasi bakal calon) dan sudah input datanya," beber Oktri.

Ia pun bersama pasangannya harus rela tidak bisa melanjutkan untuk mengikuti pesta demokrasi di kota kembang. "Jalan di Pilwalkot harus berhenti, ada miss komunikasi. Karena kami ketahui setelah adanya Silon selesai, data based softkopi kami sampaikan. Tapi ternyata KPU belum berkenan, KPU minta print out," ungkapnya pria 36 tahun ini.



(ALB)