Tiga Wilayah di Jabar Berpotensi Longsor Paling Tinggi

   •    Kamis, 03 Jan 2019 10:19 WIB
Longsor Sukabumi
Tiga Wilayah di Jabar Berpotensi Longsor Paling Tinggi
Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil. (Foto: ANTARA/Raisan Al Farisi)

Jakarta: Kabupaten Sukabumi, Kabupaten Cianjur, dan Kabupaten Garut disebut menjadi wilayah dengan potensi longsor paling tinggi di Jawa Barat. Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengungkapkan secara topografi sudut kecuraman di tiga wilayah tersebut masuk kategori ekstrem.

"Di antara semua daerah (di Jabar) daerah yang potensi longsornya paling tinggi yang sudah saya arahkan dan waspadai itu Sukabumi, Kabupaten Garut, dan Kabupaten Cianjur," ujarnya dalam Primetime News Metro TV, Rabu, 2 Januari 2018.

Ridwan mengatakan berdasarkan peta Jawa Barat jika dibelah dari tengah ke utara dan tengah ke selatan akan tampak mengapa tiga daerah tersebut memiliki potensi longsor paling tinggi. Secara umum wilayah tengah hingga selatan mulai dari Banten, Sukabumi, sampai Pangandaran topografinya miring.

Kemiringan dengan sudut kecuraman yang ekstrem membuat ketiga wilayah tersebut berada di bawah ancaman longsor. Sedangkan topografi wilayah tengah ke utara relatif datar sehingga hampir seluruh masyarakat Jawa Barat memilih bermukim di daerah tersebut.

"Kalau tengah ke utara itu lebih banyak potensinya banjir dari luapan sungai di hilir sementara selatan mayoritas kebencanaannya longsor," kata dia.

Langkah antisipasi

Ridwan memastikan Pemerintah Jabar bergerak cepat terkait mitigasi dan penanganan bencana dengan potensi kerawanan yang ada. Salah satu upayanya adalah dengan membuat cetak biru tanggap bencana. 

Selain Pemprov, ia meminta dokumen yang sama juga harus diproduksi oleh pemerintah daerah khususnya tiga daerah tersebut. Dalam cetak biru tidak hanya dimuat bagaimana mengedukasi masyarakat mulai dari tingkat sekolah hingga masyarakat termasuk juga mengatur tata ruang yang dimensinya berdasarkan potensi kebencanaan.

"Setelah itu kedisiplinan dan kepemimpinan (pemda) untuk meyakinkan agar warga menjauhi zona yang disepakati bersama menjadi zona yang harus dihindari,." ungkapnya.

Salah satu bagian edukasi yang termuat dalam cetak biru, ujar Ridwan, berkenaan dengan penerapan kurikulum berdasarkan kajian dan simulasi apabila terjadi bencana. Gempa misalnya, anak-anak dilatih dalam hitungan detik untuk mencari tempat berlindung seperti di bawah meja dan ketika gempa telah terlewati mereka harus berkumpul di tempat terbuka sebagai titik aman.

Selama ini, tambah Ridwan, respon semua orang atas bencana hanya membaca tanpa simulasi. Padahal tanpa manusia pun Jawa Barat sudah menjadi wilayah rawan bencana, apalagi dengan adanya 50 juta penduduk yang menghuni.

"Kita akan proaktif sehingga kurikulum di sekolah pun diarahkan melakukan kajian terkait kebencanaan. Kita harus menjadi masyarakat cerdas yang belajar dari masa lalu menggunakan ilmu untuk hidup di daerah rawan bencana dengan lebih arif dan bijaksana," kata Ridwan.




(MEL)