Brimob Siagakan Pasukan Kimia Amankan Natal dan Tahun Baru

Octavianus Dwi Sutrisno    •    Kamis, 13 Dec 2018 08:08 WIB
perayaan natal dan tahun baru
Brimob Siagakan Pasukan Kimia Amankan Natal dan Tahun Baru
Ilustrasi Polri, Medcom.id

Depok: Brimob Mabes Polri menyiagakan pasukan kimia biologi radioaktif atau KBR Pasukan Gegana untuk mengamankan sejumlah lokasi jelang perayaan Natal dan Tahun Baru. Namun hingga kini, ujar Dansat KBR Pasukan Gegana Brimob, Komisaris Besar, Desman S Tarigan, belum ada ancaman itu di Indonesia.

"Mungkin di luar negeri sudah ada tapi di Indonesia belum ada," kata Desman di Mabes Brimob Polri di Depok, Rabu, 12 Desember 2018.

Meskipun demikian, pihaknya tetap waspada dan tak ingin kecolongan. Salah satu upayanya adalah dengan terus melakukan latihan ditengah keterbatasan alat yang ada. 

“Kami berharap peralatan kita semakin baik karena bahan-bahan KBR ini kan tidak bisa dengan mata terbuka harus alat khusus yang harganya cukup mahal. Dan ini tidak bisa berjalan sendiri, harus melibatkan pihak-pihak terkait,” paparnya.

“Intinya kita sudah siap melakukan pengamanan Natal dan Tahun Baru, kita punya strategi jemput bola, sebelum terjadi kita lakukan pencegahan. Kita punya 157 personil. Di setiap Satuan Brimob di wilayah Polda juga kita punya,” bebernya.

Bencana Alam

Selain antisipasi aksi kejahatan yang berkaitan dengan penggunaan KBR, pasukan khusus tersebut juga turut memantau potensi bencana alam yang berdampak terhadap kawasan industri. 

“KBR inikan ada dimana saja, khususnya di bidang industri hingga rumah sakit. Nah jika terjadi bencana, tentu ini akan beresiko. Hal inilah yang jadi fokus perhatian kami saat ini,” paparnya.

Oleh sebab itu, Satuan KBR Pasukan Gegana menggandeng pakar dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), guna melakukan pemetaan terhadap daerah-daerah yang dianggap rawan terjadinya bencana tersebut.

“Prinsip kami adalah memberikan jaminan perlindungan pada masyarakat secara maksimal," tegasnya.

Sementara itu, Unsur Pengarah BNPB, Bambang Munadjat menjelaskan, sebelum melakukan penindakan terhadap bencana yang disebabkan oleh KBR perlu ada koordinasi dengan beberapa pihak.

 “Kita tahu ada beberapa konsentrasi industri yang menghasilkan dan membuang limbah. Nah BNPB selalu berkoordiansi dengan lintas sektoral untuk menanggulangi persoalan itu,” paparnya.

Saat ditanya mengenai lokasi yang dianggap rawan terjadinya bencana dan berdampak pada zat berbahaya KBR, Bambang mengaku, hal itu berkaitan dengan bidang geologi. 

“Yang jelas kita ini berada di wilayah lempengan, kondisi geologi kita seperti itu. Kalau persisnya itu bisa ditanyakan Badan Geologi. Intinya sangat dinamis, dan kita tidak tahu persis," pungkasnya.



(RRN)