Praktik Alih Fungsi Lahan Hutan Lindung Lumrah di Garut

Kristiadi    •    Jumat, 30 Sep 2016 14:43 WIB
banjir bandang garut
Praktik Alih Fungsi Lahan Hutan Lindung Lumrah di Garut
Foto aerial aliran Sungai Cimanuk. Foto-foto: Antara/Wahyu Putro A

Metrotvnews.com, Garut: Praktik alih fungsi lahan hutan lindung sudah lumrah di sepanjang aliran sungai Cimanuk, Garut, Jawa Barat. Baru-baru ini Badan Pertanahan Nasional menyebutkan masyarakat mengambil alih pengelolaan lahan milik negara seluas 2.000 hektare untuk dimanfaatkan bagi kepentingan pribadi.

"HGU (hak guna usaha) lahan kebun teh seluas 2.000 hektare yang dikelola Perusahaan Daerah Agrobisnis dan Perkebunan (PDAP) sudah habis sejak 2012. Kini lahan itu dikuasai masyarakat untuk menanam sayuran seperti kol, sawi, kentang, bawang merah, bawang daun, dan tanaman sayuran lainnya," kata Kepala Kantor Badan Pertanahan Nasional (BPN) Wilayah Jawa Barat, Sri Mujitono ditemui di Sekretariat Daerah Garut, Jumat (30/9/2016).

Ribuan hektare lahan itu berada di Kecamatan Cikajang dan Kecamatan Banjarwangi. Dua kecamatan ini terdampak banjir bandang pada Selasa 20 September lalu akibat meluapnya sungai Cimanuk.

Sri mengatakan seharusnya pemerintah mengambil alih fungsi fungsinya karena lahan itu milik negara sebagai aset pemerintah Jabar. "Kami hanya mengurusi legalitasnya," ujar dia.


Longsor terjadi tak jauh dari sungai Cimanuk

Bupati Garut Rudy Gunawan tak menampik banyak hutan lindung yang telah beralih fungsi karena ulah masyarakat. 

"Banyak lahan di beberapa hutan di Garut dikuasai masyarakat. Mereka menanam sayran tanpa memperhatikan status lahan. Dan ini terjadi tak hanya di Gunung Darajat (hulu sungai Cimanuk), tapi juga di beberapa gunung lain," kata dia.

Sebelumnya, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Willem Rampangilei mengatakan ada empat faktor penyebab banjir bandang di Garut.

Pertama pemanfaatan tata ruang tak sesuai peruntukannya. Ini menjadi faktor utama terjadinya banjir bandang yang menewaskan 39 orang dan membuat 19 orang hilang. 

"Kondisi tutupan hutan yang tak memadai menjadi faktor kedua. Kapasitas daya tampung tutupan hutan yang ada di Garut saat ini sudah tak seimbang dengan luas wilayah. Minimnya kapasitas menyimpan air (hutan) membuat air dengan cepat mengalir ke aliran sungai," ujarnya.

Faktor ketiga adalah curah hujan di atas rata-rata yang terjadi dalam tempo singkat. Dan keempat adalah adanya sedimentasi dan erosi di sungai Cimanuk saat curah hujan tinggi.

"Air di sungai menjadi sangat banyak akibat terjadi pendangkalan karena DAS Cimanuk dalam kondisi kritis," kata dia.

 


(UWA)