Cerita Korban Tsunami: Malam Itu, Laut Tampak Tenang

Antonio    •    Selasa, 25 Dec 2018 18:43 WIB
Tsunami di Selat Sunda
Cerita Korban Tsunami: Malam Itu, Laut Tampak Tenang
Marka wisata Tanjung Lesung yang rusak berat akibat empasan tsunami pada Minggu, 23 Desember 2018, MI - Susanto

Bekasi: Suasana di Pantai Anyer, Banten, begitu tenang pada Sabtu malam, 22 Desember 2018. Tak satupun menyangka, bencana tersembunyi di balik ketenangan Anyer.

Isomudin, 33, merupakan wisatawan yang selamat dari amukan gelombang Selat Sunda. Warga Bekasi, Jawa Barat, itu bersyukur selamat dan kembali ke keluarganya. Ia pun pulang membawa cerita. 

Isomudin berangkat ke Anyer bersama rombongan yang terdiri dari 60 orang. Sabtu itu, mereka mengikuti berbagai kegiatan family gathering pengurus Partai Golkar Kelurahan Pejuang, Bekasi.


(Gubernur Banten Wahidin Halim bersama Bupati Tangerang Ahmed Zaki Iskandar saat meninjau wilayah yang rusak akibat tsunami, dok: istimewa)

"Saya harus ikut kegiatan karena saya bendahara kepengurusan," ujar Isomudin saat ditemui Medcom.id di Bekasi, Selasa, 25 Desember 2018.

Setibanya di Anyer, rombongan menginap di Vila Hawai. Untuk berbagi sukacita, beberapa orang tua dalam rombongan turut membawa anak-anak mereka.

Sekitar pukul 21.00 WIB, kegiatan rampung. Beberapa orang kembali ke vila untuk beristirahat. Sedangkan lima orang lain memancing di Bendungan Karang Jodoh. Mereka diantar pengurus vila ke bendungan yang berjarak 500 meter dari vila.

Baca: Empat Warga Garut Jadi Korban Tsunami

"Saya masih berada di vila. Saya tidak ikut mancing. Tapi saya keluar dari vila bersama enam teman untuk mencari warung kopi dan rokok," tutur Isomudin.

"Malam itu, laut tampak tenang. Tak ada tanda khusus. Tapi, dari jauh, tampak nyala muncul dari Gunung Anak Krakatau," lanjut Isomudin.


(Isomudin, warga Bekasi yang selamat dari terjangan tsunami di Pantai Anyer, Medcom.id - Antonio)


Di satu warung, Isomudin dan rekan-rekannya tak menemukan rokok maupun kopi. Mereka kemudian pindah ke warung lain yang berjarak 20 meter dari bibir pantai.

Dalam perjalanan, ia melayangkan pandang ke arah pantai. Gelombang tampak tinggi. Kira-kira, ungkap Isomudin, dua meter.

Isomudin berlari ke vila. Teman-temannya pun demikian. Mereka hanya berpikir menyelamatkan diri.

Setibanya di vila, Isomudin lantas menyuruh rombongan keluar. Mereka berlarian ke perbukitan. Di belakang mereka, air laut menerjang pantai dan pepohonan.

"Puluhan orang waktu itu. Ada anak-anak berusia satu sampai tiga tahun. Saya evakuasi mereka ke rumah warga dan masjid," cerita Isomudin.

Baca: Keluarga Tunggu Kabar Korban Tsunami

Entah bagaimana nasib lima rekan yang memancing di bendungan. Sudah pasti, mereka tersapu tsunami.

Setelah tsunami mereda, satu rekan yang memancing ditemukan selamat. Sedangkan empat lainnya meninggal.



(RRN)