Disdik Bandung Diserbu Wali Murid Karena Zonasi

Roni Kurniawan    •    Kamis, 12 Jul 2018 13:00 WIB
PPDB 2018
Disdik Bandung Diserbu Wali Murid Karena Zonasi
Orang tua calon peserta didik memaksa masuk kantor Disdik Bandung. (Foto: Roni K)

Bandung: Ratusan orang tua calon siswa SMP mendatangi kantor Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Bandung di Jalan Ahmad Yani, Bandung, Jawa Barat, Kamis, 12 Juli 2018. Mereka menuntut Disdik Kota Bandung karena tidak masuk ke dalam sistem zonasi dalam pelaksanaan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun ajaran 2018/2019.

Pantauan Medcom.id, ratusan orang tua calon siswa yang hendak masuk ke tingkat SMP memadati halaman kantor Disdik Kota Bandung sejak pukul 09.00 WIB. Bahkan mereka merangsek ke dalam ruang tunggu informasi di sisi kanan gedung Disdik Kota Bandung.

Sambil membawa berkas, mereka berteriak untuk meminta keterangan dari petugas Disdik Kota Bandung mengenai sistem zonasi dalam PPDB tahun ini. Pasalnya sebagian besar orang tua geram, karena anaknya tak bisa masuk ke sekolah yang berdekatan dengan rumah.

"Tadinya anak saya mau dimasukin ke (sekolah) favorit, tapi karena pertimbangan macet jadi saya masukin ke sekolah yang deket rumah dengan sistem zonasi. Itu pilihan pertama SMPN 51 dan kedua di SMPN 54," ujar Rudi, 47, salah seorang orangtua calon siswa asal Ciwastra, Kota Bandung.

Berharap bisa masuk ke salah satu sekolah tersebut, namun justru anak Rudi tak diterima di dua sekolah itu. Padahal, menurut Rudi, jarak rumah ke dua sekolah tersebut sekitar dua kilometer. Sehingga dinilai bisa masuk, jika merujuk sistem zonasi dengan maksimal jarak 3 kilometer.

"Tapi pas lihat pengumuman ternyata rata-rata paling jauhnya 1,5 kilo. Jadi anak saya enggak masuk, padahal dekat juga dari sekolah itu," sambung Rudi.

Mendapati hal itu, Rudi bergegas membawa anaknya untuk mendaftar ke beberapa sekolah swasta di sekitaran Riung Bandung. Namun diakui Rudi, sekolah swasta yang dituju telah menutup pendaftaran karena kuota sudah terpenuhi.

"Sekolah swasta beberapa sudah ada yang tutup. Ada yang masih buka, tapi biayanya sangat mahal sekali. Jadi sekarang saya masih bingung mau sekolahin anak di mana" keluh Rudi.

Senada diungkapkan Siti Zulaeha, 49, meski anaknya berprestasi masuk dalam ranking 10 besar. Namun tak menjadi jaminan bisa masuk ke sekolah yang diinginkan di daerah Dago, Bandung, padahal berdekatan dengan tempat tinggalnya.

"Saya daftarin ke SMP 35 Dago karena deket juga jaraknya sekitar 300 meter dari rumah, tapi aneh tetap enggak masuk, padahal udah deket. Ya bingung saya, karena ada yang jaraknya satu kilo (meter) lebih ko bisa masuk," kesal Siti.

Kini mereka masih bertahan di kantor Disdik Kota Bandung untuk meminta keterangan dari petugas atau pejabat yang berwenang. Hingga kini ratusan orang tua calon murid masih bertahan untuk meminta kejelasan masa depan anaknya melanjutkan pendidikan.


(LDS)