Garam Terasa 'Manis' di Karawang

Cikwan Suwandi    •    Jumat, 06 Apr 2018 13:43 WIB
garam
Garam Terasa 'Manis' di Karawang
ILUSTRASI: Petani memanen garam di lahan garam desa Santing, Losarang, Indramayu, Jawa Barat, Senin (31/7)/ANTARA FOTO/Dedhez Anggara

Karawang: Geliat garam di Karawang, Jawa Barat dirasa semakin manis. Pasalnya, harga garam di kota lumbung padi tidak lagi asin melainkan berbuah manis. Harga garam melonjak hingga 100 persen.

Sekretaris Dinas Perikanan Kabupaten Karawang, Sari Nurmiasih menyatakan saat ini harga garam di Karawang mencapai Rp3.000 perkilogram dari sebelumnya Rp300 perkilogram.

Disebutkan, kenaikan ini berlangsung membaik akibat perbaikan kualitas dan kuatintas produksi garam di Karawang. Sari mengatakan warna garam yang dihasilkan tidak lagi kusam melainkan bersih dan garam pun terus diperbaiki untuk mencapai kandungan NaCI di atas 97 persen. 

"Harga garam tidak lagi asin, namun petani sudah merasakan manisnya harga garam," kata Sari kepada Media Indonesia, Jumat, 6 April 2018. 

Ia mengatakan peningkatan teknologi garam juga mendukung kuantitas. Sekitar 200 petani garam sudah menggunakan sistem teknologi ulir filter (TUF) Geomembran.
"Petani tidak lagi mengandalkan panas matahari, " katanya.

TUF Geomembran adalah sistem produksi garam dengan cara air laut dialirkan ke dalam kolam yang sebelumnya dilakukan filterisasi ijug sapu, batok kelapa dan batu zeolit. Kemudian penampungan sudah dilapisi plastik hitam. 

"Penguapan lebih sempurna dan warna garam putih alami akan keluar. Untuk biaya produksi saat ini sudah sekutar Rp15 juta perhektare, " katanya.

Jangka panen dinilainya lebih cepat yakni 14 hari dibandingkan cara tradisional yang memakan waktu hingga 30 hari. 

"Tahun 2017 sekitar 1.000 hektare, bisa menghasilkan 2.000 ton garam dalam setahun, " pungkasnya.


(ALB)