Buni Yani Bersumpah tak Pernah Memotong Video Pidato Ahok

Octavianus Dwi Sutrisno    •    Selasa, 14 Nov 2017 10:08 WIB
buni yani tersangka
Buni Yani Bersumpah tak Pernah Memotong Video Pidato Ahok
Suasana sidang di Gedung Arsip Kota Bandung, dengan Buni Yani sebagai terdakwa kasus pelanggaran ITE, Selasa 14 November 2017, MTVN - Octavianus

Bandung: Buni Yani mendatangi sidang vonis yang berlangsung di Gedung Arsip Kota Bandung, Jawa Barat, Selasa 14 November 2017. Ia pun mendapat sorakan dan takbir dari sekelompok orang yang memberikan dukungan moril padanya.

Sekira pukul 09.15 WIB, Buni Yani masuk ke ruang sidang. Ia duduk di kursi terdakwa yang menghadap Majelis Hakim. Ketua Majelis Hakim, M Saptono, memimpin sidang.

"Berikut saya bacakan mengenai rekap saksi ahli dan saksi-saksi yang hadir dalam persidangan ini sebelumnya," ujar Saptono.

Baca: Hari Ini, Sidang Vonis Kasus Buni Yani Digelar di Bandung

Setelah itu, Hakim memberikan kesempatan pada Buni Yani untuk menyampaikan pendapat. Buni Yani menegaskan dirinya tak bersalah atas kasus dugaan ujaran kebencian dan pelanggaran UU Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) yang menjeratnya. Video menunjukkan pidato Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, semasa masih menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta, pada beberapa bulan lalu.

"Saya berulangkali dalam setiap persidangan mengatakan dan bersumpah tidak pernah memotong video," katanya.

Buni menegaskan bila benar dirinya tetap dihukum atas tuduhan itu, ia memasrahkan semua itu kepada Allah SWT.

"Apabila saya tetap dituduh memotong video, biarlah orang yang memutus perkara yang menyatakan saya memotong video ini kelak dilaknat oleh Allah SWT," paparnya.

Di sidang sebelumnya, Jaksa Penuntut Umum menuntut dua tahun penjara pada Buni Yani. Jaksa juga menuntut Buni Yani membayar denda Rp100 juta subsider tiga bulan kurungan.

Baca: Buni Yani Dituntut Dua Tahun Penjara

Buni Yani didakwa dengan pasal 32 ayat 1 jo pasal 48 ayat 1 yang berisi: Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum dengan cara apa pun mengubah, menambah, mengurangi, melakukan transmisi, merusak, menghilangkan, memindahkan, menyembunyikan suatu Informasi Elektronik dan/atau dokumen elektronik milik orang lain atau milik publik.

Buni berurusan dengan hukum setelah mengunggah video pidato Ahok yang mengutip surah Al Maidah ayat 51, Facebook. Pidato itu disampaikan Ahok di Kepulauan Seribu pada September 2016.

Buni mengaku, mendapat video tersebut dari akun Facebook Media NKRI. Unggahan Buni membuat Ahok harus berurusan dengan hukum. Ahok divonis dua tahun penjara atas kasus penodaan agama.
 
Sementara itu, Buni terjerat kasus penghasutan berbau SARA. Dia dijerat Pasal 28 ayat 2 dan Pasal 45 ayat 2 UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang ITE dengan ancaman pidana maksimal enam tahun penjara atau denda paling banyak Rp1 miliar.


(RRN)