Air Sungai Citarum tak Mungkin Bisa Dikonsumsi

Rizky Dewantara    •    Selasa, 23 Jan 2018 16:48 WIB
pencemaran sungai
Air Sungai Citarum tak Mungkin Bisa Dikonsumsi
Aliran Sungai Citarum di kawasan Rajamandala, Kabupaten Bandung Barat, Senin 15 Januari 2018, MI

Bogor: Dosen Ilmu Pengetahuan Lingkungan dan Amdal Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor Budi Susetyo membeberkan dampak dan penanganan anak Sungai Citarum melintasi Kota Bandung, Jawa Barat, yang tercemar berbagai jenis limbah. Mirisnya, air Sungai Citarum berfungsi sebagai penyedia air minum dan sumber air domestik bagi warga setempat.

Sungai Citarum memiliki panjang 270 kilometer. Menurut Budi yang juga menjabat sebagai Kepala Laboratorium Geoinformatika, pemerintah perlu memulihkan kondisi air Sungai Citarum.

"Yang pasti kerusakan ekosistem sungai, pendangkalan, banjir tahunan, kualitas air buruk. Termasuk meningkatnya biaya eksternalitas, biaya yang harus dikeluarkan untuk meng-cover alih guna air sungai oleh masyarakat akibat pencemaran," jelas Budi kepada Medcom.id, Selasa 23 Januari 2018.

Pencemaran Sungai Citarum, ujar Budi, diakibatkan limbah industri yang mengandung banyak senyawa kimia. Di antaranya Nitrat-Nitrit, minyak, B3 (terutama logam berat) dan untuk industri makanan, limbah organik terdapat sumber nutrient bisa terjadinya eutrifikasi.

Pria yang menekuni bidang pemodelan spasial dan simulasi sistem untuk pengelolaan sumber daya alam dan Lingkungan ini menyebutkan, selain bahaya limbah pabrik, ada juga dari limbah padat anorganik seperti sampah yang menghambat aliran sungai. Limbah organik juga membusuk di sekitar sungai sehingga kualitas air menurun.

"Kurangnya monitoring evaluasi sungai bisa jadi penyebabnya, padahal baku mutu kualitas air sudah jelas, ada parameter fisik, biologi dan kimia. Akibatnya Sungai Citarum terkontaminasi berbagai jenis limbah, limbah cair dari pewarna tekstil beracun, dan industri berat," ungkap dia.

Alumnus Prodi Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Institut Pertanian Bogor ini menjabarkan, secara umum pencemaran Sungai Citarum dari parameter Biochemical Oksigen Demand (BOD) dan Chemical Oksigen Demand (COD) yang terus meningkat. Dampak dari air sungai yang tercemar jika dipergunakan manusia secara langsung.

"Akan mengalami gatal-gatal hingga sakit kulit dan tidak mungkin bisa dikonsumsi," terangnya.

Mengatasi hal tersebut, menurut Budi, pemerintah setempat perlu menggandeng sarjana, mahasiswa dan LSM yang berkecimpung di bagian lingkungan hidup, sebagai pendamping untuk fasilitasi solusi pengelolaan limbah industri atau domestik dan upaya mitigasinya.

"Bisa juga mengadakan gerakan massal peduli Citarum untuk dijaga bersama (kampanye dan sosialisasi). Mumpung musim pencitraan, ini tantangan nyata, tentu semuanya perlu perencanaan yang baik dan terukur capaiannya. 


(RRN)