Dedi Mulyadi Koordinasikan Pemulangan Korban Human Trafficking

Reza Sunarya    •    Selasa, 31 Jul 2018 12:05 WIB
perdagangan manusia
Dedi Mulyadi Koordinasikan Pemulangan Korban <i>Human Trafficking</i>
Ilustrasi perdagangan manusia, medcom.id - Syahmaidar

Purwakarta: Ketua DPD Partai Golkar Jawa Barat Dedi Mulyadi mendatangi Kantor Kementerian Luar Negeri RI di Jakarta. Kedatangannya untuk mengoordinasikan pemulangan warga Jabar yang menjadi korban perdagangan manusia atau human trafficking.

Kedatangan Dedi setelah mendapat informasi lima perempuan asal Purwakarta, Jabar, menjadi korban perdagangan manusia di Tiongkok. Semula, mereka mendapat tawaran untuk bekerja sebagai pramuniaga produk kosmetik. Belakangan, keluarga mendapat informasi mereka berada di Tiongkok sejak Mei 2018.

Dedi menilai modus itu baru untuk wilayah Jabar. Tapi, ujarnya, Kemenlu mengatakan modus itu pernah terjadi di Singkawang, Kalimantan Barat.

"Lantaran itu saya minta seluruh warga berhati-hati dengan apapun modus perdagangan manusia. Saya akan terus mengampanyekan agar tak ada warga Jabar khususnya, dan Indonesia umumnya, yang terbujuk (berujung perdagangan manusia)," ungkap Dedi dalam keterangan persnya, Selasa 31 Juli 2018.

Dedi mengatakan siap membantu warga yang menjadi korban perdagangan manusia. Terkait lima orang di Tiongkok, lanjut Dedi, Kemenlu tengah berkoordinasi dengan diplomat RI di negara tersebut untuk menginvestigasi kasus itu. Kepolisian Tiongkok pun terlibat dalam investigasi.

“Saya percaya pada kemampuan diplomat Indonesia. Mohon doa kepada semua pihak agar penanganan kasus ini bisa lancar,” ucap Dedi.

Sementara itu Kasubdit Perlindungan WNI wilayah III Gita Widiowati mendapatkan informasi soal kasus itu melalui Polda Jabar. Saat ini, pihaknya sedang melakukan pendalaman dan koordinasi dengan Bareskrim Polri dan KBRI Tiongkok. 

“Saya melihat dalam kasus ini memang kasus penjualan orang. Kami terus berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait,” ujar Gita.

Kementerian Luar Negeri RI, menurut Gita, sedang mengupayakan kepulangan para korban. Seluruh aspek dari diri korban menjadi fokusnya dalam proses penanganan kasus ini. 


(RRN)