Cara Unik Warga Jaga Pintu Perlintasan Tak Resmi di Bandung

Octavianus Dwi Sutrisno    •    Selasa, 19 Dec 2017 21:14 WIB
jalur kereta api
Cara Unik Warga Jaga Pintu Perlintasan Tak Resmi di Bandung
Perlintasan kereta api Antapani-Guruminda dijaga warga saat kereta api lewat. Foto: Medcom.id/Octavianus Dwi Sutrisno

Bandung: PT Kereta Api Indonesia (KAI) kewalahan menutup perlintasan kereta karena keterbatasan yang mereka miliki. Potensi kecelekaan pun sulit dihindari bila tidak ada yang mengawasi.

Masyarakat tak kehabisan akal. Salah satu contohnya perlintasan kereta api tidak resmi di Jalan Guruminda-Antapani Baru nan cukup unik.

Kurnia, 48, penjaga menjaga perlintasan kereta api di wilayah tersebut, menyebut perlintasan dijaga dua orang. Mereka yang bertugas menutup dan membuka portal ketika kereta lewat. Karena tidak memiliki alat komunikasi yang mengetahui jadwal lewat kereta, mereke bermodal perasaan yang terasah pengalaman.

"Jadi kita menggunakan feeling (perasaan). (Tandanya) ketika lampu di ujung sebelah kiri jalur kereta berwarna kuning, berarti akan ada kereta lewat dari kanan. Begitu juga sebaliknya," ucap Kurnia saat ditemui Medcom.id di perlintasan kereta Guruminda-Antabaru Kota Bandung, Selasa, 19 Desember 2017, petang.

Setelah mengetahui tanda tersebut, petugas segera mengalihkan perhatian dan memalingkan perhatian ke arah datangnya kereta. Setelah lampu kereta terlihat dari jarak 500-600 meter, petugas yang menjaga di kiri dan kanan perlintasan langsung menurunkan portal dan menunggu sampai kereta lewat.

"Tidak menunggu lama (kereta lewat)," bebernya.

Pria yang mengaku telah menjaga perlintasan sejak tahun 90an ini mengatakan, bekerja dengan sistem shift (berputar). Menjaga palang kereta dibagi tiga shift, pukul 05.00-16.00 WIB, 16.00-24.00 WIB, dan 00.00-05.00 WIB.

Saat ditanya mengenai penghasilan, Kurnia dan rekan-rekannya bergantung ke uang pemberian orang yang melintas.

"Tapi sekarang, Pak Walikota sempat memperjuangkan kami, 'penjaga perlintasan kereta api tolong dikasih'. Dan alhamdulilah perbulan kami dapat kadeudeuh (upah) dari Dishub sebesar 1,8 juta," pungkasnya.


 


(SUR)