Peran Strategis Perempuan Menjawab Persoalan Bangsa

   •    Rabu, 19 Jul 2017 23:25 WIB
hari perempuan internasional
Peran Strategis Perempuan Menjawab Persoalan Bangsa
Linda Gumelar (dua dari kiri) pada acara diskusi nasional soal perempuan (Foto: Istimewa)

Metrotvnews.com, Jakarta: Perempuan sebetulnya memiliki peran strategis dalam menjawab persoalan bangsa. Erosi di berbagai aspek kehidupan yang menyebabkan kualitas jati diri bangsa semakin terkikis, bisa ditolong saat para perempuan diberikan peran, terutama di lingkup terkecil, yaitu keluarga.

Demikian yang termaktub dari rilis yang diterima Metrotvnews.com, terkait Diskusi Nasional yang diselenggarakan Yayasan Gerakan Pemberdayaan Swara Perempuan (GPSP) bertajuk ”Peran Perempuan dalam Pertahanan dan Keamanan”, di Jakarta, Rabu 19 Juli 2017.

GPSP melalui ketuanya, Linda Gumelar, mengaku prihatin dengan gejala erosi di berbagai aspek kehidupan yang menyebabkan turunnya kualitas jati diri bangsa. Pandangan sempit yang muncul dalam interaksi sosial, seperti etnis dan sukuisme, menurutnya berpengaruh kepada persatuan dan kesatuan, serta tujuan didirikannya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). 

Linda menilai pemerintah dan semua pihak perlu memperkuat sendi-sendi berbangsa dan bernegara di masyarakat, sampai kepada lingkungan terkecil, yaitu keluarga.

“Perempuan mempunyai peran strategis, baik di ranah domestik maupun ranah publik. Karena itu, perlu adanya penguatan nilai-nilai nasionalisme dan kebangsaan melalui kegiatan-kegiatan kemasyarakatan, terutama yang melibatkan perempuan,” kata Linda Gumelar.

Apalagi, sebagai bangsa dan negara, Indonesia tak bisa mengelak dari pusaran globalisasi. Pusaran membuat dunia seperti tanpa batas di berbagai lini kehidupan, mulai di bidang ekonomi, politik, sosial budaya, termasuk informasi yang saat ini begitu mudah diakses sekaligus cepat. 

Meskipun globalisasi membuka peluang dengan banyaknya kemudahan. Namun di sisi lain, globalisasi menurutnya bisa menjadi tantangan dan mungkin ancaman.

“Bebasnya akses informasi dan ekonomi tentu berdampak pada pergeseran dan perubahan pola hidup masyarakat. Ancaman dari luar tidak hanya berupa invasi militer saja, tetapi juga bisa berupa perpindahan penduduk, ekonomi, peredaran obat terlarang, termasuk tumbuhnya paham radikalisme dan pandangan etnic orientied."

Saat gejala-gejala negatif globalisasi semakin menguat, lanjut Linda, diperlukan penguatan wawasan kebangsaan di kalangan perempuan hingga di level terkecil, yakni keluarga. 

“GPSP tentu sangat mendukung jika inisiatif ini muncul dari pemerintah,” kata Linda Gumelar, yang pernah menjabat Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak di era Susilo Bambang Yudhoyono.

Diskusi digelar atas kerja sama Yayasan GPSP dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA). Diskusi menghasilkan butir-butir rekomendasi untuk Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Badan Narkotika Nasional (BNN), dan Cyber Crime Mabes Polri.

“Saya harap GPSP dapat memberikan masukan kepada pemerintah, melalui KPPPA untuk menjadi bahan pertimbangan dalam menyusun kebijakan serta langkah lebih lanjut,” kata Linda.

GPSP juga menekankan perlunya kerja sama dalam menanggulangi bahaya narkotika, terorisme, dan teknologi informasi antar instansi/lembaga dan provinsi dengan melibatkan organisasi perempuan, LSM, dan pemerhati masalah perempuan dan anak. 

“BNN sebagai instansi yang berwenang dalam menanggulangi bahaya narkoba, perlu lebih intensif terjun di tengah pelajar, mahasiswa, maupun masyarakat, khususnya kelompok perempuan, dalam memberikan informasi bahaya narkoba,” kata Linda.



(RIZ)