Gempa Subang Tak Pengaruhi Megathrust Mentawai

Yose Hendra    •    Rabu, 19 Oct 2016 18:32 WIB
gempa
Gempa Subang Tak Pengaruhi Megathrust Mentawai
Ilustrasi/Metrotvnews.com

Metrotvnews.com, Padang: Gempa berkekuatan 6,3 skala Richter (SR) yang mengguncang utara Jawa Barat, tepatnya di Kabupaten Subang, diperkirakan tidak berpengaruh terhadap zona subduksi gempa besar (megathrust) Mentawai.

Hal ini dikatakan oleh Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Sumatra Barat Ade Edward, Rabu 19 Oktober 2016. Menurutnya, kendati getaran gempa terasa di Padang, bukan berarti bisa memicu percepatan megathrust yang berada di segmen Siberut.

"Sangat dalam dan jauh dari zona tumbukan lempeng yang berada di selatan Jawa, jalurnya patahan di Siberut," ujar Ade.

Menurutnya, kalau pusat gempa di selatan Jawa, baru bisa diperkirakan mempengaruhi megathrust. Megathrust sendiri adalah sebuah energi yang diyakini tersimpan di segmen Siberut dengan simpanan energy sekitar 8,9 SR.

Gempa di Jawa semalam, kata Ade, merupakan gempa antar lempeng samudra, dengan kedalaman 615 kilometer, dan tidak terjadi pada jalur gempa yang dapat merusak atau di jalur megathrust.

Ade menjelaskan, gempa yang terjadi dengan kedalaman tersebut, juga tidak berpengaruh terhadap jalur megathrust. Namun, yang perlu diingat, adalah gempa besar pernah terjadi di kawasan itu dengan skala 7,5 SR pada 1757 dan 1957.

Masyarakat diharapkan tetap harus waspada terkait kemungkinan gempa yang dapat saja terjadi di jalur megathrust.

"Gempa tersebut dirasakan hingga Kota Padang, disebabkan karena kekuatannya yang besar, dan pengaruh kondisi tanah di setiap daerah," kata dia.

Kepala Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono, menjelaskan, meskipun gempa bumi yang terjadi tersebut termasuk klasifikasi gempa bumi kuat, tetapi patut disyukuri bahwa gempa bumi ini merupakan gempa bumi hiposenter dalam (deep focus earthquake) yang tidak berpotensi merusak dan tidak berpotensi tsunami.

"Gempa bumi dalam dengan hiposenter melebihi 300 kilometer di Laut Jawa merupakan fenomena menarik, karena sangat jarang terjadi," katanya. 


(UWA)