Pollycarpus tak Berminat Jadi Politikus

P Aditya Prakasa    •    Rabu, 29 Aug 2018 12:44 WIB
kasus munir
Pollycarpus tak Berminat Jadi Politikus
Pollycarpus, terpidana kasus pembunuhan aktivis HAM Munir, yang dinyatakan bebas murni setelah menjalani masa hukuman di Lapas Sukamiskin Bandung, Rabu, 29 Agustus 2018, Medcom.id - P Aditya.jpg

Bandung: Pollycarpus Budihari Priyanto mengaku lega setelah bebas dari hukuman penjara. Terpidana kasus pembunuhan pegiat hak asasi manusia, Munir Said Thalib, itu mengaku tengah menata kehidupannya. Namun, ia tak berminat terjun ke dunia politik.

Mantan Pilot Garuda Indonesia itu mengaku banyak tawaran untuk masuk ke partai politik. Satu di antaranya Partai Berkarya.

"Memang diajak tapi saya tidak membidangi politik. Saya lebih suka kerja profesional. Tawaran teman-teman saja, tapi saya tidak suka politik," kata Pollycarpus usai menerima berkas status bebasnya di Balai Pemasyarakatan (Bapas) Klas I Bandung, Jawa Barat, Rabu, 29 Agustus 2018.

Pollycarpus mengaku tengah berkonsentrasi pada bidang yang ia tekuni. Yaitu, jasa penerbangan. Ia kini mengelola bisnis penerbangan domestik di PT Gatari.

"Di Gatari, saya asisten direktur. Di Cahaya Sakti, saya sebagai direktur operasi," lanjut Pollycarpus yang datang ke Bapas bersama istrinya.

Baca: Pollycarpus Bebas Murni Hari Ini

Ia mengaku lega setelah menjalani masa hukuman. Pollycarpus bebas murni dari hukuman 14 tahun penjara. Ia hanya menjalani hukuman selama delapan tahun kurungan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Sukamiskin Bandung karena mendapat beragam remisi. Pada 2014, ia mendapatkan bebas bersyarat. Namun ia tetap melakukan wajib lapor.

"Sekarang tidak ada beban lagi. Total 10 tahun," ujar Pollycarpus.

Baca: Wapres tak Persoalkan Pembebasan Pollycarpus

Nama Pollycarpus muncul setelah Munir tewas dalam pesawat Garuda. Pada 7 September 2004, Munir dan Pollycarpus sama-sama terbang dari Jakarta menuju Amsterdam, Belanda. Dua jam sebelum mendarat di Amsterdam, Munir meninggal di kursinya.

Kepolisian Belanda yang melakukan autopsi menemukan jejak senyawa arsenik dalam tubuh Munir. Nama Pollycarpus pun muncul. Pilot yang sedang cuti itu terbukti mendapat perintah untuk membunuh Munir. Putusan itu didapat setelah Pollycarpus menerima beberapa panggilan dari agen intelijen senior.

Pada 18 Maret 2005, Bareskrim Polri menetapkan Pollycarpus sebagai tersangka kasus pembunuhan Munir. Pada 1 Agustus 2005, sidang pun digelar di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat. Jaksa menuntut Pollycarpus dihukum seumur hidup.

Tapi pada 12 Desember 2005, Majelis hakim menjatuhi hukuman 14 tahun penjara padanya. Ia dinyatakan terbukti melakukan pembunuhan berencana terhadap Munir dengan cara memasukkan racun arsenik ke dalam mi goreng yang disantap Munir saat penerbangan menuju Singapura.

Lihat video:
 


(RRN)