Bangunan Liar di Kampung Arab Puncak Dibongkar Paksa

Dede Susianti    •    Senin, 22 Aug 2016 22:05 WIB
bangunan liar
Bangunan Liar di Kampung Arab Puncak Dibongkar Paksa
Salah satu pusat bisnis bernuansa Timur Tengah, di Warung Kaleng, Kampung Sampay, Desa Tugu Utara, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor. Foto: MI/Dede Susianti

Metrotvnews.com, Bogor: Petugas dari Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) akhirnya membongkar ratusan bangunan liar yang ada di Jalur Puncak, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, Senin 22 Agustus 2016. 

Pembongkaran dengan menggunakan eskavator itu dimulai dari bangunan-bangunan permanen di Kampung Sampay, Desa Tugu Utara, Kecamatan Cisarua yang dikenal dengan Kampung Arab.

Ada sekitar 50 bangunan permanen berupa toko, barbershop, money changer, toko kayu gaharu, agen travel yang semua nama toko atau tempatnya bertuliskan Arab dan sebagiannya dikelola atau memperkerjakan warga asal Timur Tengah.

Selain itu ada beberapa bangunan milik atau yang dikelola warga sekitar. Karena melanggar, bangunan-bangunan itu ikut dibongkar.

Pembongkaran berlanjut hingga ke arah sekitar pertigaan masuk Taman Safari Indonesia (TSI). Alasannya sama, tidak berizin, melanggar ketertiban umum yakni menimbulkan kemacetan, melanggar sempadan jalan, merusak lingkungan karena menutup saluran air.

Pembongkaran dilakukan setelah sebelumnya petugas Satpol PP sebagai tim eksekutor memberikan surat peringatan. Dengan surat peringatan itu, petugas juga memberikan tenggang waktu untuk mereka membongkar sendiri. Hanya saja setelah beberapa pekan atau hingga waktu ditentukan, pemilik tidak kunjung membongkar, 300 personel Pol PP pun membongkarnya.

Bahkan berdasarkan pemantauan Media Indonesia, tiga hari sebelum dibongkar atau meski bangunan-bangunan itu sudah bersegel, masih ada aktivitas. Seperti barbershop yang pekerja dan konsumennya warga Arab itu, masih beroperasi dan ramai.

Agus Ridhalah, Kepala Bidang Pembinaan dan Pemeriksaan (Bina Riksa), Satpol PP Kabupaten Bogor, saat ditemui dilokasi menyebutkan, ada sekitar 200 bangunan liar yang dibongkar hari itu.

"Bangunan-bangunan yang kami bongkar ini tidak berizin. Pelanggaran lain juga karena, yakni berdiri di bahu jalan, trotoar, dan mengganggu irigasi. Jumlahnya ada 200- an," katanya.

Untuk menjaga kemungkinan terjadinya perlawanan, pengamanan pembongkaran itu juga dibantu personel dari TNI dan Polri. Penertiban kawasan Puncak atau tepatnya Jalur Puncak itu, berdasarkan intruksi Bupati Bogor dan hasil rakor lintas sektor beberapa waktu lalu.

Salah satu permasalahan di jalur tersabut adalah kemacetan yang membuat pihak kepolisian kerp kali memberlakukan one way (satu arah). Namun upaya yang dianggap paling jitu dan tepat mengurai kemacetan itu mendapat penolakan warga sekitar.

Akhirnya Pemkab Bogor pun bertindak tegas, salah satunya dengan membongkar bangunan-bangunan liar yang memakan banyak bahu jalan.

"Kawasan warung kaleng merupakan salah satu lokasi atau titik kemacetan. Kemacetan kerap kali terjadi bukan saja di akhir pekan, tapi hari biasa juga. Ini salah satu solusi untuk mengatasi kemacetan tadi," katanya.

Sempat ada reaksi dari warga ketika petugas tidak membongkar sejumlah bangunan, padahal keberadaannya di jalur yang sama dan melanggar.

Mereka menganggap Satpol PP tebang pilih dan meminta bangunan itu juga dibongkar. "Kenapa yang itu tidak dibongkar. Kan sama memakan bahu jalan," teriak sejumlah warga seraya menunjuk ke arah Bafagih Bussinis Center.

Bafagih Business Center adalah sebuah pusat bisnis bertingkat yang baru saja beroperasi. Ada sejumlah jenis usaha di situ, seperti toko pakaian dan kafe. Semuanya bernuansa Arab.

Petugas pun akhirnya mengarahkan alat beratnya ke tembok depan atau pagar pusat bisnis itu dan membongkarnya. Namun, bangunannya tak ikut dibongkar karena diklaim sudah berizin.

Agus mengatakan, ada beberapa bangunan yang tidak dibongkar hari itu. Menurutnya, akan dilakukan pengkajian kembali karena berdasarkan keterangan sejumlah pemilik, itu bangunan itu berdiri di atas tanah milik mereka sendiri. Pihaknya juga akan kembali melakukan pendataan dan penyegelan.


(UWA)