Singkirkan UI, UNPAR Juara Nasional Kompetisi HHI

Gervin Nathaniel Purba    •    Kamis, 08 Nov 2018 11:53 WIB
UNPAR
Singkirkan UI, UNPAR Juara Nasional Kompetisi HHI
?Singkirkan UI, UNPAR Juara Nasional Kompetisi HHI. (Foto: Dok. UNPAR)

Bandung: Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) meraih juara nasional kompetisi Peradilan Semu Hukum Humaniter Internasional (HHI) setelah mengungguli Universitas Indonesia (UI) di babak final yang berlangsung Minggu, 4 November 2018, di Bandung, Jawa Barat. 

Dengan menjuarai kompetisi ini, UNPAR mewakili Indonesia untuk berkompetisi pada ajang sejenis pada level internasional yang akan berlangsung Maret 2019 di Hong Kong.

Kompetisi ini diselenggarakan bersama-sama oleh Fakultas Hukum UNPAR dengan Komite Internasional Palang Merah (ICRC). Kompetisi yang bertajuk 13th Indonesian Round of the International Humanitarian Law Moot Court Competition 2018 (Kompetisi Peradilan Semu Hukum Humaniter Internasional ke-13 tahun 2018) berlangsung pada 2-4 November 2018 dan diikuti oleh 24 universitas terbaik dari seluruh Indonesia sebagai peserta dan dua universitas lainnya sebagai observer (pengamat).

Dekan Fakultas Hukum UNPAR Tristam Pascal Moeliono memandang positif kegiatan ini dan menekankan bahwa kemenangan bukan segala-galanya. Dia juga menyambut baik ditunjuknya UNPAR sebagai tuan rumah kompetisi ini.

"Kegiatan ini seyogyanya tidak dipandang semata-mata sebagai ajang kompetisi atau sekadar menunjukkan universitas mana yang terbaik. Ada yang lebih penting dari itu, yaitu menyebarkan pengetahuan tentang HHI. Selain itu, membangun kesadaran tentang pentingnya HHI bagi Indonesia harus menjadi tujuan esensial dari kompetisi ini,” ujar Moeliono, dalam keterangan tertulis, Rabu, 7 November 2018.


(Foto: Dok. UNPAR)

Kepala Delegasi Regional ICRC untuk Indonesia dan Timor Leste Alexandre Faite mengungkapkan bahwa kompetisi ini sangat penting untuk mendukung peran Indonesia yang kian signifikan di bidang HHI di level internasional. 

Dalam kompetisi ini, para mahasiswa dapat mengasah kemampuan mereka dalam melakukan riset, membuat tulisan, dan melakukan advokasi hukum tentang berbagai dampak kemanusiaan dari konflik bersenjata atau situasi-situasi kekerasan lainnya.

"Banyak peserta kompetisi ini yang mungkin memilih karier yang berhubungan dengan HHI. Tapi saya percaya pengetahuan dan pelatihan terkait HHI menjadi alat yang bermanfaat untuk mengasah logika hukum para peserta, yang suatu saat nanti mungkin dipanggil untuk menjadi pengambil keputusan dalam berbagai kapasitasnya," kata Alexandre. 



"Ketika itu terjadi, mereka dapat membawa Indonesia atau bahkan dunia ke arah yang lebih sejahtera, bermartabat, dan berperikemanusiaan,” kata Alexandre menambahkan.

Mahasiswa yang mengikuti kompetisi ini selain harus fasih berbahasa Inggris, juga memiliki pengetahuan memadai tentang hukum internasional secara umum, termasuk Hukum Humaniter Internasional (HHI). HHI adalah hukum yang berlaku pada saat konflik bersenjata, sehingga HHI sering pula disebut sebagai Hukum Perang atau Hukum Konflik Bersenjata.

Kompetisi ini menggunakan sebuah kasus imajiner yang disusun oleh tim penasihat hukum ICRC. Kasusnya adalah konflik yang sedang terjadi di Provinsi Bonham. 

Bonham menjadi bagian dari Republik Donka setelah berakhirnya era penjajahan asing. Secara kultur, bahasa, agama, dan etnis, Bonham justru sama dengan salah satu negara tetangga, yakni Page. 

Bonham sudah sejak lama mengalami pergolakan dan secara terang-terangan mengungkapkan keinginan untuk lepas dari Donka. Upaya ini mendapat dukungan dari Page.

Untuk menjadi juara, UNPAR harus melewati dua babak penyisihan, babak perempat final, babak semifinal, dan babak final. Pada semifinal, UNPAR mengalahkan Universitas Pelita Harapan. Sedangkan finalis lain, Universitas Indonesia mengalahkan Universitas Islam Indonesia. 



Berikut ini daftar lengkap pemenang Kompetisi Peradilan Semu Hukum Humaniter Internasional Ke-13 tahun 2018.

Juara Nasional Indonesia: UNPAR

Runner Up Nasional: Universitas Indonesia

Semifinalis: Universitas Islam Indonesia dan Universitas Pelita Harapan

Oralis Terbaik: Bagoes Carlvito dari Universitas Gadjah Mada

Oralis Terbaik Kedua: Shannon Tamara dari Universitas Pelita Harapan

Oralis Terbaik Ketiga: Audrey Kurnianti dari Universitas Gadjah Mada

Memorial Terbaik: Universitas Islam Indonesia

Memorial Terbaik Kedua: Universitas Katholik Atmajaya Jakarta

Memorial Terbaik Ketiga: Universitas Sebelas Maret

Spirit of the Moot
(Universitas pendatang baru dengan peringkat tertinggi dan menunjukkan semangat luar biasa dalam berkompetisi): Universitas Kristen Maranatha.



(ROS)