Peristiwa Tenggak Obat Penenang Jadi Peringatan bagi Pemerintah

Octavianus Dwi Sutrisno    •    Kamis, 28 Sep 2017 17:21 WIB
pil maut pcc
Peristiwa Tenggak Obat Penenang Jadi Peringatan bagi Pemerintah
Pengamat sosial DR Jumaniar Marbun, MTVN - Octavianus

Metrotvnews.com, Bandung: Pengonsumsi obat penenang di Kendari, Sulawesi Tenggara dan Tasikmalaya, Jawa Barat, masih berusia anak-anak. Peristiwa itu mengingatkan pemerintah untuk lebih memperketat penggunaan obat penenang di Indonesia.

Medio September 2017, puluhan anak di Kendari mengalami kejang-kejang setelah menenggak pil bertuliskan PCC atau bertuliskan Paracetamol Cafein Carisoprodol. PCC merupakan obat penenang yang berisiko memicu kecanduan.

Baca: Obat yang Beredar di Kendari Bertuliskan PCC

Kejadian serupa terjadi di Tasikmalaya pada 25 September 2017. Belasan anak mengalami kejang. Tapi mereka tak mengonsumsi pil PCC. Mereka menenggak obat jenis lain yaitu Examol atau X dengan dampak sama seperti PCC.

Baca: Obat yang Dikonsumsi Belasan Anak di Tasikmalaya bukan PCC

Pengamat sosial DR Jumaniar Marbun mengatakan pemerintah harus menunjukkan keberanian memberantas narkoba dan psikotropika. Satu diantaranya merombak Undang Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang narkotika untuk menjerat pelaku penyalahgunaan maupun pengedar. 

"Harusnya yang dibahas itu tiga saja yaitu semua hal yang menimbulkan stimulan, depresan dan halusinogen. Seperti di negara - negara maju, semua yang menggunakan zat tersebut maka akan dikenakan hukuman ini," kata Marbun yang juga aktif di organisasi penentang Narkoba Psikotropika dan Zat Adiktif (Napza), Kamis 28 September 2017.

Keluarga dan lingkungan pun harus memantau kasus tersebut. Sebab, anak-anak yang mengonsumsi pil penenang itu mengalami frustasi.

"Di sinilah peran keluarga penting untuk mengetahui kondisi anak-anaknya dan memberikan solusi yang baik," lanjut Marbun ditemui di ruang kerjanya di Jalan Ir H Juanda, Kota Bandung, Jabar.

Salah satu usaha memantau anak-anak yaitu memanfaatkan media sosial. Misalnya dengan membuat grup WhatsApp messenger khusus keluarga.

"Ini terlihat sederhana, tapi sangat berguna karena orang tua bisa berkomunikasi langsung dengan anak walaupun dia ada di luar rumah," jelasnya.

Kementerian Sosial bekerjasama dengan Badan Narkotika Nasional juga telah membuat program guna mengatasi masalah narkoba ini yaitu konselor adiksi dimana para mantan pengguna narkoba di kumpulkan dan diberikan pemahaman terkait bahaya narkoba.

"Ini cukup efektif, dan programnya juga sudah berjalan di seluruh Indonesia jadi para mantan pengguna narkoba (junkies) yang telah diberikan terapi dan pemahaman, mereka yang nantinya akan menjangkau teman - teman maupun orang diluar sana yang masih mengkonsumsi narkoba," pungkasnya.


(RRN)