Penganiayaan Marbot di Garut Rekayasa

Octavianus Dwi Sutrisno    •    Jumat, 02 Mar 2018 13:41 WIB
penganiayaanhoax
Penganiayaan Marbot di Garut Rekayasa
ilustrasi Metrotvnews.com

Bandung: Kabar penganiayaan marbot (pengurus masjid), UR, 56, di Pameungpeuk, Garut, Jawa Barat, yang sempat viral di media sosial nyatanya hoaks.  Kapolda Jabar Irjen Agung Budi Maryoto menyebut keterangan UR kerap berubah-ubah dan tak sesuai dengan barang bukti. 

Agung menuturkan, mulanya masyarakat mendengar pengakuan UR menjadi korban penganiayaan. UR saat itu, Rabu, 28 Februari 2018, ditemukan di Masjid Agung Istiqomah, Jalan Raya Cigodeg, Pamengpeuk, Garut, Rabu, 28 Februari 2018 dengan baju dan kopiah yang sobek. UR mengaku telah dianiaya lima orang. 

Mendapat laporan tersebut, polisi segera mendatangi lokasi kejadian untuk olah tempat kejadian perkara (TKP). Dari pengakuan korban, kata Agung, UR mengaku diikat di bagian tangan dan kaki, mulut disumpal, dipukul kursi dan dibacok. 

"Setelah didalami, ternyata ini hanya rekayasa ada barang bukti baju yang disobek sendiri. Jadi dia sendiri yang melakukan peristiwa ini," bebernya di Mapolda Jabar, Jumat, 2 Maret 2018.

Agung menuturkan, dari hasil visum petugas tak menemukan bekas luka pukulan atau benda tajam di tubuh UR. Selain itu, keterangan UR kerap berubah-ubah. 

Sementara itu, UR yang merupakan warga Cigodeg, Pameungpeuk, Kabupaten Garut, mengaku merekayasa karena bingung dengan tekanan ekonomi.

"Malam sebelum kejadian, saya pusing dan bingung anak butuh uang untuk beli mesin babat rumput jadi akhirnya pikiran buat saya," ungkap UR.

Selanjutnya, kata UR, terlintas dalam benaknya untuk merekayasa penganiayaan tersebut.

"Saya khilaf dan bingung butuh uang, enggak tahu harus teriak ke siapa," pungkasnya.

Akibat perbuatannya, UR ditetapkan sebagai tersangka atas laporan palsu. Dirinya dijerat dengan Pasal 242 Ayat (1) dan (3) KUHP tentang Sumpah Palsu dan Keterangan Palsu, dengan ancaman hukuman tujuh tahun penjara. 


(LDS)