Bupati Purwakarta Canangkan Gerakan Pelajar Dampingi Orang Tua Bekerja

Reza Sunarya    •    Selasa, 29 Nov 2016 18:37 WIB
berita purwakarta
Bupati Purwakarta Canangkan Gerakan Pelajar Dampingi Orang Tua Bekerja
Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi (kanan, berbaju hitam dan ikat kepala putih) -- Foto:Reza Sunarya

Metrotvnews.com, Purwakarta: Penguatan program Tujuh Hari Pendidikan Istimewa merupakan bagian dari pelaksanaan Perbup No 69 tentang Pendidikan Berkarakter di Purwakarta. Oleh kareanya, Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi kembali mengeluarkan inovasi program pendidikan yang disebut Mapag Dibuana.

Mapag Dibuana merupakan cara mengedukasi siswa dengan cara yang menarik. Para pelajar SD dan SMP di Purwakarta diajak dan diharuskan untuk turut serta membantu pekerjaan yang digeluti oleh orang tua mereka. 

Program pencanangan dilakukan mulai Selasa (29/11/2016) dan akan dilaksanakan dua kali dalam sebulan, pada hari yang sama. Sebanyak  110 ribu siswa Sekolah Dasar dan 35 ribu siswa Sekolah Menengah Pertama secara serempak melaksanakan program tersebut.

Mapag Dibuana dilatarbelakangi oleh niat pemerintah daerah agar pelajar  untuk menumbuh kembangkan sikap empati di kalangan pelajar SD dan SMP di Purwakarta. Sehingga ke depan diharapkan pelajar mampu merasakan kesulitan yang dialami oleh orang tua dalam melakoni pekerjaannya sehari-hari.

Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi memantau langsung kegiatan tersebut dengan mendatangi Kampung Cimanglid Desa Sukatani yang merupakan sentra pembuat tape bendung. Dirinya melihat salah seorang siswa yang tengah membantu orang tuanya dalam pembuatan makanan tradisional yang berbahan baku singkong itu.

"Kalau mereka bekerja bareng orang tuanya, mereka akan merasakan dan menghayati kesulitan yang dialami orang tua saat menjalani pekerjaannya,” kata pria yang karib disapa Kang Dedi ini. 


Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi meninjau anak membantu orang tua membuat makanan tradisional (Foto:Reza Sunarya)

Ditegaskan Dedi, transformasi pengetahuan dari orang tua kepada anak tentang deskripsi pekerjaan pun diharapkan dapat menambah khazanah pengetahuan pelajar itu sendiri.

"Kalau orang tuanya tukang bangunan, siapa tahu kelak sang anak memiliki kemampuan lebih baik dalam membangun, bahkan Anggota DPRD pun saya minta untuk membawa anaknya. Kalau ada orang tuanya yang bekerja di luar kota, bisa ikut saudaranya, ada transfer ilmu yang akan tercipta melalui program ini," jelas Dedi.

Salah seorang orang tua siswa, Cece (33) warga Kampung Cimanglid Desa Sukatani menyambut baik program baru yang dikeluarkan oleh Bupati Purwakarta ini. Pria yang berprofesi sebagai perajin tape singkong ini mengaku mendapatkan kesempatan untuk mentransformasikan ilmu pembuatan tape kepada anaknya.

"Ini kesempatan saya mewariskan ilmu pembuatan tape kepada anak saya. Nanti kan dia berpikir kalau minta ini itu, dia akan ingat kesulitan saya mencari uang, minimal keinginannya itu tidak akan terlalu menggebu," ujar Cece.

Berdasarkan pantauan di beberapa desa, terlihat para pelajar hari ini tidak masuk sekolah untuk membantu kegiatan yang dijalani oleh orang tuanya sehari-hari mulai dari berjualan bubur, membuat keramik, bekerja di kebun dan sawah.


(ROS)