Saksi dan Polisi Beberkan Kronologi Berbeda Terkait Tewasnya Fernando

Rizky Dewantara    •    Minggu, 21 Jan 2018 11:51 WIB
penembakan
Saksi dan Polisi Beberkan Kronologi Berbeda Terkait Tewasnya Fernando
Ilustrasi

Bogor: Sebanyak empat orang menjadi saksi mata tewasnya Fernando Alan Joshua Wowor karena tertembak Briptu Achmad Ridhoi Sayidas Suhur di parkiran tempat hiburan malam, Bogor, Jawa Barat, pada Sabtu, 20 Januari 2018. Mereka seluruhnya kader Partai Gerindra, yaitu Arief Rochmawan, Rizky Bayu Pradana, Rio Andika Putra Perdana, dan Arli Maraut.

Rio menuturkan kejadian bermula ketika mereka dan Fernando beniat mencari makan di Jalan Sukasari, Bogor Timur. Pada pukul 02.00 WIB tersebut, ternyata area parkir di tempat mereka hendak makan penuh. Juru parkir kemudian mengarahkan mereka ke parkiran tempat hiburan malam Lipss Club dan Karaoke.

Menurut Rio, mobil yang mereka tumpangi tiba-tiba diadang seorang laki-laki dengan motor BMW warna abu-abu saat hendak masuk parkiran di depan hiburan malam tersebut. Pria tersebut kemudian berteriak-teriak.

"Motor ini harganya sama dengan mobil itu. Kamu yang mundur atau aku yang mundur," kata Rio menirukan ucapan pria tersebut.

(Baca: Gerindra Minta Polisi yang Menembak Anggotanya Diproses Hukum)

Arif, lanjut Rio, kemudian turun dari mobil dan menyarankan pria pengendara motor BMW agar mengambil sebelah kiri mobil. Sebab, di sebelah kiri mobil masih ada ruang untuk memakirkan motor besarnya.

"Dia malah makin naik pitam, teriak-teriak sambil mencabut pistol dan mengokang senjata yang moncongnya diarahkan ke kaca depan mobil kami," tutur Rio.

Rio pun ikut turun dari mobil dan berusaha melerai sekaligus mendinginkan suasana. "Bukannya makin dingin, malah semakin menjadi. Kemudian, pistol itu diarahkan ke kepala Arif. Saya pegang tangannya sambil berusaha kasih pengertian," terangnya.

Namun, kata Rio, pria itu justru makin marah. Moncong pistolnya dihantamkan ke kepala Arif.

"Saya yang khawatir, spontan meraih senjata guna menghindari hal berbahaya," ujar Rio.

Saat itu, Fernando turun dari mobil untuk membantu teman-temannya. Ia juga berusaha ikut merebut pistol dari tangan pria yang belakangan diketahui sebagai anggota Brimob Klapa Dua itu.

"Mulailah rusuh. Saat itu, warga sekitar ikut mukulin pembawa pistol ini. Di saat saya fokus, ada orang tarik muka saya dari belakang sekaligus mencakar pipi saya. Akhirnya lepaslah saya dari usaha merebut pistol tadi dan dengan spontan balik badan. Tiba-tiba`dor`, kawan saya Fernando tumbang," ungkap Rio.

Kaget, Rio kemudian menangkap lagi pistol yang dibawa pelaku hingga berhasil menjatuhkannya. Penembak pun diamuk warga yang geram.

"Si penembak digebukin banyak orang, entah siapa, saya tidak peduli," sambungnya.

Ketika tahu peluru yang digunakan untuk menembak Fernando Asli, Rio segera berteriak meminta pertolongan. Ia dan teman-temannya kemudian membawa Fernando ke RS Vania.

(Baca: Anggota Brimob Penembak Kader Gerindra Dikeroyok)

Cerita teman almarhum tersebut berbeda degan versi polisi. Menurut Kabid Kum Polda Jabar Kombes Bagus Pramono, Briptu Achmad Ridho Sayidas Suhur dikeroyok sejumlah orang sebelum meletuskan senjata apinya.

"Saat korban (Briptu Ridho) sedang naik motor, tiba-tiba dari arah depan muncul mobil Pajero dan seolah ingin menyerempet korban. Korban lalu meneriaki mobil tersebut," kata Bagus.

Merasa diteriaki pengemudi motor, rombongan sebanyak delapan orang yang ada di dalam mobil Pajero lantas keluar dan berusaha mengeroyok Ridho. Merasa terjepit, Ridho kemudian mencabut senjata. Namun, senjata itu berusaha direbut salah seorang dari rombongan tersebut.

Tanpa sengaja, senjata dalam genggamannya itu meletus dan mengenai Fernando. Kader Gerindra itu pun tewas di tempat. Sedangkan, Ridho saat ini dalam kondisi kritis dan sedang mendapat perawatan di RS PMI Bogor.


(NIN)