Melindungi Anak dari Dampak Prahara Rumah Tangga

   •    Selasa, 09 Jan 2018 16:15 WIB
kekerasan anakkekerasan dalam rumah tangga
Melindungi Anak dari Dampak Prahara Rumah Tangga
Ilustrasi. (Metrotvnews.com)

Jakarta: Prahara rumah tangga yang melibatkan suami dan istri sering kali menempatkan anak sebagai pihak yang paling dirugikan sebagai korban.

Tak sedikit kasus prahara rumah tangga berujung pada pembunuhan anak kemudian diikuti aksi bunuh diri istri atau suami sebagai cara untuk menyelesaikan masalah.

Psikolog Kasandra Putranto menyebut kekerasan hingga pembunuhan yang dilakukan orang tua terhadap anak berkaitan dengan kondisi sosial dan lingkungan yang memengaruhi mental seseorang untuk mengambil jalan pintas.

"Tapi yang jelas ketika korban meninggal harus ada upaya untuk melakukan autopsi psikologis untuk mengetahui kondisi psikologis mereka pada masa hidupnya," kata Kasandra, dalam Newsline, Selasa 9 Januari 2018.

Kasandra menilai selain autopsi fisik, autopsi psikologis juga perlu dilakukan untuk mengetahui apa yang mendorong seseorang melakukan pembunuhan terhadap orang lain kemudian diakhiri dengan bunuh diri.

Namun terlepas dari itu, dari berbagai kasus bunuh diri yang terjadi di Indonesia mayoritas dilatarbelakangi oleh depresi.

Depresi dianggap sebagai pembunuh tersembunyi yang sering kali tak tertangani. Yang terjadi adalah tiba-tiba ada orang tua yang membunuh anaknya kemudian mereka bunuh diri atau melakukan bunuh diri secara bersama-sama.

Menurut Kasandra, ada banyak hal yang menyebabkan seseorang mengalami depresi, beberapa di antaranya adalah faktor ekonomi atau cekcok yang tak kunjung mendapatkan solusi.

Terkadang orang di sekitar memilih tak peduli ketika pasangan suami istri terlibat cekcok lantaran menganggap bahwa hal itu ranah privasi.

Namun perlu diingat bahwa ketika prahara dalam rumah tangga sudah menjurus pada kekerasan terhadap anak, semua pihak harus ikut peduli pada keselamatan anak sebagi pihak yang paling rentan.

"Tentu saja kita berharap (orang tua) jangan sampai pendek akal, mengambil solusi pendek apalagi melibatkan anak. Depresi itu silent killer, sering tidak terdeteksi. Banyak orang tidak mengetahui tapi tiba-tiba sudah terjadi," jelasnya.




(MEL)