Meriahkan Karnaval Kemerdekaan, Jokowi Bagi-Bagi Kaus

Roni Kurniawan    •    Sabtu, 26 Aug 2017 17:02 WIB
hut ri
Meriahkan Karnaval Kemerdekaan, Jokowi Bagi-Bagi Kaus
Presiden Jokowi mengikuti Karnaval Kemerdekaan Pesona Parahyangan 2017. --Foto: Biro Pers Setpres--

Metrotvnews.com, Bandung: Kemeriahan Karnaval Kemerdekaan Pesona Parahyangan 2017 di Kota Bandung menyita perhatian masyarakat. Bahkan Presiden Joko Widodo membagikan sejumlah kaus kepada masyarakat yang memadati rute yang dilintasi proses karnaval tersebut.

Presiden Jokowi berada pada barisan paling dengan arak-arakan karnaval tersebut dengan menggunakan kendaraan berhiaskan wajan serta kompor. Sepanjang rute yang dilalui mulai dari Gedung Sate hingga Taman Vanda di Jalan Merdeka, Jokowi tak henti-hentinya melambaikan tangan.

Bahkan Jokowi pun memberikan kaos kepada masyarakat yang memadati ruas jalan yang dilalui arak-arakan karnaval. Nampak Jokowi begitu semringah dan bersemangat membagikan kaos berwarna merah kepada masyarakat.

Sontak, masyarakat pun berebut untuk mendapatkan kaus yang dilemparkan Jokowi di atas mobil hias. Namun tak sepatah kata pun yang dilontarkan Jokowi kecuali senyuman dan lambaian tangan.

Jokowi beserta rombongan telah tiba di Taman Vanda, Jalan Merdeka. Jokowi pun duduk dikursi membelakangi taman tersebut untuk menyaksikan arak-arakan karnaval yang melanjutkan ke kawasan Alun Alun Bandung.

Sementara itu Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden, Bey Machmudin, menjelaskan, Iket Kepala Makuta Sinatria dan Beskap Ungu, yang digunakan Jokowi merupakan lambang mahkota kesatria. Dua simbol itu menjunjukkan karakter, sifat, sikap yang berani, adil, tegas dan jujur.
 
"Dalam budaya Sunda, pemakaian iket kepala menunjukkan pemimpin,  sesorang  yang sedang menjalankan tugas mulia, seseorang yang sedang mencari peningkatan kebaikan diri," Kata Bey.

Bey bilang, dengan memakai rupa iket sunda ‘makuta sinatra’, menunjukkan bahwa pemakai iket ini memberikan wejangan bahwa dirinya telah melaksanakan Tilu Eusi Diri (tiga sikap diri). 

"Pertama, mencerminkan sikap berani dan adil  dalam membuat pilihan keputusan demi menegakkan keadilan dan kebenaran sejati," ujar Bey.

Sikap kedua adalah, panceg yang berketetapan hati /tegas, yakni selalu menggunakan suara hati nurani dalam mengemban tugas lahiriah maupun bathiniah.

Sikap terakhir adalah Silih Wangi atau saling mewangikan/saling memberikan kebaikan; melindungi mengayomi dengan sikap welas asih (kasih sayang) untuk pencapaian kebaikan dan kesejahteraan bersama. 

"Serta menjalankan Kebaikan untuk sesama, keluarga, masyarakat, negara juga pribadi diri sebagai hamba Tuhan Yang Maha Esa," ujar Bey.



(ALB)