Kekeringan di Tangerang Diprediksi hingga November 2018

Hendrik Simorangkir    •    Jumat, 31 Aug 2018 16:47 WIB
musim kemarau
Kekeringan di Tangerang Diprediksi hingga November 2018
Warga beraktivitas di sungai Cisadane yang mulai mengering di kawasan Pintu Air 10, Tangerang, Banten, Kamis (23/8). ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal.

Tangerang: Sembilan kecamatan di Kabupaten Tangerang, Banten, terdampak kekeringan sejak Juni. Kesulitan air bersih dialami warga di Kecamatan Kresek, Gunung Kaler, Kronjo, Mauk, Pakuhaji, Teluknaga, Legok, Panongan, dan Curug. 

Status tanggap darurat belum ditetapkan Pemerintah Daerah (Pemda) terhadap kekeringan di sejumlah wilayah itu. Penanganan jangka pendek terhadap kondisi tersebut pun akan ditempuh Pemda.

"Jangka pendeknya kita distrubusikan air bersih ke masyarakat. Ada dua instansi yang kita tugaskan, PDAM (Tirta Kerta Raharja) dan BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) melalui armada yang ada ke sembilan kecamatan," kata Penjabat (Pj) Bupati Kabupaten Tangerang Komarudin, Jumat, 31 Agustus 2018. 

Kekeringan diprediksi melanda Kabupaten Tangerang hingga tiga bulan ke depan. Komarudin menjelaskan, status tanggap darurat bencana bakal ditetapkan pihaknya apabila dampak kekeringan tersebut meluas.

"Dari beberapa kriteria berdasarkan peraturan perundang-undangan saat ini belum. Kemungkinan bulan September dan Oktober itu kalau eskalasi naik baru kita tetapkan," jelas Komarudin. 

Kekeringan dinilai sudah menjadi bencana musiman di Kabupaten Tangerang. Kesulitan air bersih selalu mengiringi bencana ini. Solusi jangka panjang perlu digalakkan pemerintah guna meminalisasi dampak bencana tersebut. 

"Intinya air itu harus ditangkap melalui sumur resapan, pohon dan lain sebagainya. Termasuk tadi penyediaan air baku untuk PDAM, itu yang kita berharap itu dari bendungan Karian, sekarang kan masih dibangun, 2019 sudah selesai itu," jelas Komarudin.

Sementara itu Kepala BPBD Kabupaten Tangerang, Agus Suryana mengatakan, kekeringan di sejumlah wilayah di Kabupaten Tangerang saat ini masih bisa ditangani BPBD dan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Kerta Raharja (TKR).

"Jika sudah diterapkan darurat bencana saat ini maka dikhawatirkan kekeringan ini melebihi jangka waktu yang ditetapkan dalam jangka darurat bencana selama 30 hari, dan juga belum memenuhi kriteria darurat bencana untuk saat ini," jelas Agus.


(DEN)