Bagus Menyulap Sampah Plastik jadi Bahan Bakar

Roni Kurniawan    •    Senin, 21 May 2018 13:54 WIB
inovasi
Bagus Menyulap Sampah Plastik jadi Bahan Bakar
Komunitas peduli sampah plastik menguji alat pengolah sampah plastik di halaman kantor Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Bandung, Senin, 21 Mei 2018. Medcom.id/Roni Kurniawan

Bandung: Pemerintah Kota Bandung, Jawa Barat, akan mencoba mengolah sampah plastik menjadi bahan bakar untuk kendaraan jenis premium. Teknologi baru ini sebagai upaya mengurangi sampah plastik di Paris van Java yang mencapai 500 ton per hari.

Inovasi pengelolaan sampah plastik menjadi bahan bakar tersebut muncul dari Dimas Bagus Wijanarko, 42. Pemuda asal Surabaya, Jawa Timur. ini ingin menularkan inovasi ini ke kota besar lain di Indonesia.

Dia sudah melakukan berbagai percobaan membuat alat untuk pengelolaan sampah plastik menjadi bahan bakar kendaraan sejak 2014. Bagus baru berhasil pada 2018 ini dengan menghasilkan bahan bakar minyak jenis premium untuk kendaraan.

"Sebetulnya metode ini pernah ada di Jepang, tapi tidak ada yang menggunakannya lagi," kata Bagus saat menyambangi Kantor Dinas Lingkuhan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Bandung, Jalan Sadang Serang, Senin, 21 Mei 2018.

Bagus mengaku ingin mengubah kebiasaan masyarakat yang membuang sampah plastik. Bagus sudah bisa menghasilkan BBM jenis premium dengan tabung dilengkapi pengatur suhu panas, lalu dipasang sebuah pipa besi yang diberi dua keran.

"Saya coba-coba rakit alat ini, dan alhamdulillah bisa. Ada tabung buat ngebakar plastiknya, ada tabung gas juga, terus pakai selang besi," sambungnya.

Bagus mengaku telah membuktikan bahan bakar yang digunakan untuk sepeda motornya. Dia menguji coba perjalanan Jakarta ke Bali dengan jarak hampir 1.500 kilometer.

"Untuk satu kilogram plastik yang dibakar lalu diuapkan, bisa menghasilkan sampai satu liter bahan bakar mentah jenis premium karena semua plastik juga mengandung minyak," tuturnya.

Inovasi tersebut pun rencananya akan diadopsi oleh DLHK Kota Bandung guna mengurangi sampah plastik. Namun hal itu, harus melalui persetujuan dari Badan Penelitian dan Pengembangan (Bapelitbang) Kota Bandung karena menyangkut dengan anggaran yang akan digunakan.

"Inovasi ini bagus, apalagi sampah di kita sebanyak 40 persen plastik dari 1.200 ton sampah setiap harinya. Jadi ini sangat bagus dan kita mendesak sebetulnya membutuhkan teknologi ini," pungkas Sekertaris DLHK Kota Bandung, Dedi Darmawan.

 


(SUR)