BEDO dan UNPAR Berhasil Bina Ratusan UKM di Indonesia

M Studio    •    Rabu, 19 Dec 2018 07:02 WIB
UNPAR
BEDO dan UNPAR Berhasil Bina Ratusan UKM di Indonesia
Program SCORE UNPAR menuai respons positif dari pelaku pasar dan dunia industri karena memberikan manfaat sangat besar (Foto:Dok.UNPAR)

Jakarta: Program SCORE Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) menuai respons positif dari pelaku pasar dan dunia industri karena memberikan implikasi serta manfaat sangat besar.

Sustaining Competitive & Responsible Enterprises (SCORE) merupakan suatu program yang diinisiasi oleh International Labour Organisasi (ILO). Program tersebut kemudian diadaptasi dan dibesut oleh BEDO (Business & Export Development Organization), dan telah dilakukan riset dan studi oleh UNPAR.

BEDO menjadi program unggulan untuk meningkatkan efektivitas manajerial dan produktivitas kinerja usaha kecil dan menengah (UKM).

"BEDO telah dijalankan oleh hampir 100 pelaku UKM. Mereka mengalami peningkatan omzet dan efisiensi kinerja yang signifikan," kata Program Manger BEDO Jeff Kristianto, saat peluncuran buku Efektivitas Program SCORE UNPAR dalam Revitalisasi Bisnis UKM, di Bali Paragon Resort Hotel, Jimbaran, Bali, Sabtu, 8 Desember 2018.

BEDO adalah sebuah lembaga knowledge sharing dan experience sharing yang telah berkolaborasi dengan pihak pemerintah, perguruan tinggi, dan pihak swasta.

"Pada dasarnya UKM memerlukan penambahan wawasan agar mereka dapat berkembang. Modul program SCORE UNPAR dengan sediaan berbagai model ini diterapkan dengan cara ringkas dan sederhana sehingga akan memacu produktivitas manajerial kerja. Sebab, produktivitas bukan hanya dukungan mesin dan jumlah tenaga kerja yang ditambah. Mereka juga perlu diberikan cara berkomunikasi dengan baik, kondisi ruangan kerja bersih, dan suasana kerja yang baik, salah satu di antaranya pemberian label pada setiap elemen pendukung aktivitas kerja,” tutur Dr Judith Felicia Irawan, Dra, MT dari UNPAR.

Yang membanggakan adalah dari beberapa UKM yang telah dibina rata-rata mendapatkan penghargaan dari pemerintah berupa High Productivity and Achievement Award.

"Pada awalnya tujuan program ini diciptakan adalah untuk memperkuat antara manajemen dengan perusahaan yang menjadi isu di beberapa negara, misalnya aksi mogok dan demo, yang biasanya dipicu karena jalinan komunikasi kurang berjalan dengan baik,” tutur National Project Manager SCORE dari International Labour Organization (ILO), Januar Rustandie.

ILO percaya dengan memperkuat komunikasi dan kerja sama, akan tercipta penghematan dan dukungan dari karyawan antara kedua belah pihak sehingga perusahaan dapat meraih laba yang diharapkan. Program SCORE ini telah menjadi indikator kinerja dan diterapkan di 15 negara.



(ROS)