Harga Beras di Bandung Terus Naik

Antara    •    Senin, 15 Jan 2018 20:21 WIB
berasimpor berasberas impor
Harga Beras di Bandung Terus Naik
Ilustrasi (FOTO ANTARA/Ahmad Subaidi)

Bandung: Kenaikan harga beras yang sudah berlangsung selama tiga pekan semakin tak terkendali. Sejumlah pedagang pun akhirnya hanya bisa pasrah, dan berharap secepatnya harga beras kembali normal.

"Kenaikan rata-rata Rp1.000 sampai Rp 1.500/kg. Beras ketan juga ikut-ikutan naik dari Rp14.000 menjadi Rp24.000/kg. Itu sudah terjadi sejak awal tahun," ucap Hendi, salah seorang pedagang beras di Pasar Soreang, Kabupaten Bandung, Senin 15 Januari 2018.

Meski tidak mengetahui percis, Hendi mengaku, kenaikan harga beras ini diduga karena sejumlah daerah penghasil beras mengalami gagal panen akibat hujan terus menerus," Daerah penghasil beras seperti Cianjur, Sumedang, Cirebon, Cilacap dan Soreang mengalami gagal panen," ungkapnya.

Atas kenaikan harga beras ini, dia mengatakan, banyak para pembeli yang mengeluh. Namun tak sedikit pula yang mengerti sehingga mereka tidak menawar. Tidak hanya itu, pedagang juga banyak yang harus mengeluarkan stok beras yang lama ke masyarakat.

"Saat ini, stok yang kualitasnya bagus hanya sedikit. Terpaksa juga saya jual beras yang harganya lebih mahal," bebernya.

Hendi memperkirakan, kenaikan harga beras akan terjadi hingga bulan Februari. Pada Maret, harga beras diperkirakan baru turun karena sudah masuk masa panen raya.

Kondisi yang sama juga terjadi di pasar tradisional Cimahi, para pedagang di daerah ini bahkan sudah sulit mendapatkan stok beras dari bandar besar. Dampaknya, harga beras dengan kualitas bagus kini dijual Rp13.000 dari harga normal Rp11.000/kg.

"Harga semua jenis beras naik, beras kualitas sedang dari Rp9.000 juga naik menjadi Rp12.000/kg. Harga beras bulan Januari ini paling tinggi dibanding tahun-tahun sebelumnya," terang Agus, pedagang Pasar Antri Cimahi.

Agus mengaku mengalami kerugian sekitar 5 % lantaran terpaksa membeli beras dengan harga yang lebih mahal, sementara untuk menjualnya lagi perlu pertimbangan karena khawatir jualannya tidak laku.

"Paling hanya pasrah, sambil berharap cuaca bisa kembali normal. Karena penyebab harga mahal ini disebabkan gagal panen," jelasnya.



(ALB)