Apoteker Bandung: Obat Palsu Sudah Beredar Sejak 2011

Octavianus Dwi Sutrisno    •    Senin, 19 Sep 2016 16:41 WIB
obat palsu
Apoteker Bandung: Obat Palsu Sudah Beredar Sejak 2011
Salah satu apotek di Kota Bandung, Jawa Barat. Foto: Metrotvnews.com/Octa

Metrotvnews.com, Bandung: Pengakuan mengejutkan datang dari seorang apoteker di sebuah apotek di Kota Bandung, Jawa Barat. Tantri Suryandani, 30, apoteker yang bekerja di Apotek K-24, ini mengatakan sudah kerap mendengar peredaran obat palsu sejak 2011. 

"Kasus obat palsu yang diberitakan saat ini sebetulnya sudah lama ada. Seharusnya kita sebagai apoteker harus lebih teliti dalam memilih dan memilah obat-obat yang masuk," kata Tantri kepada Metrotvnews.com, ditemui di tempat kerjanya di Jalan Kiaracondong, Kota Bandung, Senin (19/9/2016).

Sejak 2011, lanjut dia, keberadaan obat palsu sudah sangat mengganggu. Untuk itu, ia menyarankan agar pemilik apotek membeli obat-obatan langsung dari distributor resmi.

"Jangan sampai membeli dari orang-orang nakal atau sales yang tak jelas. Kalau obat dari orang tidak jelas, efeknya membahayakan konsumen," ujarnya.

Obat palsu, kata Tantri, kerap muncul dari para sales yang menawarkan secara langsung ke apotek dan berani menjual dengan harga murah. "Walaupun jarang ada yang seperti ini (menawarkan obat) ke apotek, namun kita harus berhati-hati. Jangan tergiur dengan obat murah," katanya,

D. Nurlianty, 19, asisten apoteker di Apotek Setiawan 1, Jalan Terusan Jakarta, Kota Bandung, menyayangkan beredarnya obat palsu. Menurutnya, obat palsu sulit dibedakan dengan yang asli. Namun, tetap terlihat oleh apoteker.

"Saya belum pernah lihat obat palsu, tapi yang saya lihat seperti di TV memang secara kasat mata sama, namun kalau diteliti lagi beda," tuturnya.

Lain halnya dengan Nita, 25, yang bekerja di toko obat Maju Jaya, Pasar Kiaracondong. Menurutnya, toko obat yang dia jaga tak menjual obat-obatan yang menggunakan resep dokter.

"Kalau di sini tak jual obat -obat keras (yang sesuai resep dokter). Kita jual obat yang berlogo hijau. Tapi, kita tetap waspada terhadap peredaran obat palsu," katanya.

Sebelumnya, tim gabungan Bareskrim dan Badan Pengawas Obat dan Makanan menemukan lima gudang produksi dan distribusi besar obat ilegal di Kompleks Pergudangan Surya Balaraja, Balaraja, Banten pada 2 September. Tim menyita seisi gudang dan menyegel gudang itu.

Kepala BPOM Penny K. Lukito mengatakan mayoritas temuan adalah obat yang menimbulkan efek halusinasi. Tim juga menemukan obat tradisonal tanpa izin edar dan mengandung bahan kimia berbahaya dengan berbagai merek, yaitu Pae, African Black Ant, New Anrant, Gemuk Sehat, dan Nangen Zengzhangsu.

Dari lima gudang di Balaraja, tim gabungan menyita alat-alat produksi obat ilegal yakni mixer, mesin pencetak tablet, mesin penyalut, mesin stripping, dan mesin filling. Selain itu, tim menemukan bahan baku obat, bahan kemasan, obat jadi, dan obat tradisional siap edar bernilai lebih dari Rp30 miliar.




(UWA)