Mantan Pekerja Kirim Surat Teror ke Rumah Ibadah di Karawang

Cikwan Suwandi    •    Senin, 12 Feb 2018 12:06 WIB
terorisme
Mantan Pekerja Kirim Surat Teror ke Rumah Ibadah di Karawang
Ilustrasi teror, Ant

Karawang: Tempat ibadah di Karawang, Jawa Barat, mendapat ancaman teror. Beberapa jam kemudian, polisi menangkap pelaku yang ternyata mantan pekerja di rumah ibadah tersebut.

Kapolres Karawang AKB Hendy Febrianto mengatakan menangkap pelaku berinisial DP pada Senin, 12 Februari 2018, dini hari. Dari hasil pemeriksaan, motif pelaku yaitu sakit hati pada atasan yang memecatnya.

"Untuk sementara ini hasil pemeriksaan pelaku. Motifnya adalah sakit hati terhadap atasannya yang memecatnya, atasan sendiri merupakan pengurus dari vihara. Sehingga ia mencoba melakukan ancaman teror, " terang Hendy. 

DP dibekuk di rumahnya di Adiarsa, Karawang. Tim Gegana diturunkan untuk mengecek rumah DP. Namun tim tak menemukan benda berbahaya.

Kejadian bermula saat DP mendatangi rumah ibadah di Jalan Ir H Juanda, Kelurahan Nagasari, kemarin. Ia menyerahkan sebuah paket dibungkus kain merah.

DP memberikan uang Rp10 ribu kepada pegawai tersebut. DP mengaku mengembalikan barang yang ia pinjam dari mantan atasannya.

Pada pukul 13.00 WIB, pegawai membuka paket. Pegawai membaca kertas bertuliskan ancaman: Rp63.000.000, SEJARAH PEMBODOHAN UANG SUDAH TERUNGKAP SEKARANG MENDING LOE TF : KE REK GUA 1091620125 (BCA) ATAU GUA BOM 1N1 TEMPAT LOE.

Pegawai pun melaporkan ancaman tersebut ke pengurus. Kemudian mereka mendatangi kantor polisi.

"Sekitar pukul 20.00 WIB, pengurus langsung melaporkan kejadian itu ke polisi," kata Ketua Pengurus Vihara Kwan Seen Tee Koen Wawan Kurniawan.

Polisi pun melakukan olah tempat kejadian perkara dan melacak pelaku. Lalu polisi membekuk pelaku.

Pelaku dijerat Pasal 6 Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, menjadi Undang-Undang Juncto Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme.

"Namun kita juga masih mendalami pelaku. Saat ini pelaku melakukan hal ini sendiri, bukan dari kelompok mana pun, " kata dia.
 


(RRN)