Ribuan Korban Longsor Kuningan Sudah Sebulan Mengungsi

Roni Kurniawan    •    Senin, 26 Mar 2018 10:21 WIB
bencana longsor
Ribuan Korban Longsor Kuningan Sudah Sebulan Mengungsi
Seorang balita tertidur beralaskan tikar di antara pengungsi dari Desa Pinara, Kecamatan Ciniru, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, Minggu 25 Maret 2018. Foto: Medcom.id/Roni Kurniawan

Kuningan: Ribuan warga Desa Pinara, Kecamatan Ciniru, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, lebih dari 30 hari  menempati dua buah aula di desa tetangga. Mereka terpaksa mengungsi karena desanya diterjang longsor pada 23 Februari 2018 silam.

Sejak terjadinya longsor, ribuan warga tak berani kembali ke tempat tinggalnya, karena khawatir longsor susulan. Mereka pun kini harus rela tidur bersamaan di dua tempat.

"Yang mengungsi ada di dua tempat. Karena kalau satu tempat enggak cukup. Jumlah semuanya ada 1.415 jiwa dari 420 kepala keluarga," kata Kepala Desa Pinara, Lili Suhaeni, Minggu, 25 Maret 2018.

Lili mengatakan, warga Desa Pinara kebingungan untuk mencari tempat mengungsi sehari setelah terjadi longsor. Mereka tidak membawa barang saat meninggalkan Desa Pinara karena panik.

"Mereka enggak bawa apa-apa, termasuk saya. Karena panik, jadi seharinya kita mengungsi. Dan alhamdulillah ada dua tempat yang disediakan," sambungnya.

(Baca: BPBD Sebut 10 Kecamatan di Kuningan Longsor)

Aula yang menjadi tempat mengungsi pun begitu penuh oleh warga. Pakaian menumpuk tak beraturan. Bahkan tak sedikit balita tidur tergeletak hanya beralaskan tikar dilapisi selimut.

"Kalau bantuan, alhamdulillah banyak yang bantu. Kasih makanan, selimut, pakaian sama yang lainnya. Tapi kalau tidur yang begini posisinya, sedikit sempit," tuturnya.

Tak tahu mau kemana

Tati Ratnaningsih, 45, warga Desa Pinara, menceritakan longsor tersebut terjadi sekitar pukul 22.00 WIB setelah seharian kawasan itu diguyur hujan lebat.

"Pas hujan gede, sekitar jam 10 malam, terdengar suara gemuruh. Saya langsung lari keluar sama anak-anak dan bapak. Pas liat tanah sudah retak-retak, terus rumah yang tetangga langsung ambruk kebawa longsor," cerita Lili.

Melihat kejadian itu, Lili pun tak berani kembali masuk ke rumah karena sudah mulai terlihat retakan. Longsor tersebut pun dilengkapi dengan matinya aliran listrik sehingga suasana gelap mencekam terjadi di Desa Pinara pada Jumat 23 Februari silam.

(Baca: 2.000 Warga Kuningan Terisolasi Akibat Longsor)

"Kita enggak bisa kemana-mana karena gelap, terus jalan juga udah ketutup longsor semua. Jadi kita semua diem disana semalem itu sambil khawatir ada longsor susulan," ungkapnya.

Kini Lili pun bersama suami dan dua anaknya terpaksa harus ditinggal di Aula Gedung PGRI Kecamatan Ciniru untuk mengungsi bersama ratusan warga lainnya. Karena sebagian warga ada yang mengungsi ke salah satu aula masjid di tak jauh dari lokasi pengungsian pertama.

"Kedepannya belum tahu mau gimana. Karena kalau balik lagi ke sana takut ada longsor lagi. Jalannya juga udah susah buat kesana, tertutup longsor," urai Lili.


 


(SUR)