Wawancara Khusus MTVN

Ridwan Kamil: Jadi tak Jadi itu Urusan Allah

   •    Senin, 21 Aug 2017 12:20 WIB
pilkada 2018
Ridwan Kamil: Jadi tak Jadi itu Urusan Allah
Wali Kota Bandung Ridwan Kamil dan Ketua Umum NasDem Surya Paloh, MTVN - Roni Kurniawan

Metrotvnews.com, Bandung: Wali Kota Bandung Ridwan Kamil mengincar kursi nomor satu di Pemerintahan Provinsi Jawa Barat. Maret 2017, pria yang akrab disapa Emil itu mendeklarasikan diri maju dalam Pemilihan Gubernur Jabar 2018. Langkah Emil mendapat dukungan dari Partai Nasional Demokrat (NasDem).

Tak tanggung-tanggung, Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh langsung menyatakan dukungan untuk Emil. Politik tanpa mahar menjadi kesepakatan Emil dengan NasDem.

Emil mengaku warga mendapatkan informasi mengenai pemilihan suara melalui tiga sumber. Lantaran itu, Emil terus menyebarkan informasi mengenai pencalonan dirinya melalui tiga hal tersebut.

Apa sajakah tiga sumber itu? Berikut wawancara khusus Ridwan Kamil dengan jurnalis Metrotvnews.com Wandi Yusuf, Laela Badriyah, beserta videografer Arie dan Isti Listiyani di Pendopo Kota Bandung, tengah pekan kemarin.


(Wali Kota Bandung Ridwan Kamil, MTVN)

Soal pilkada, sampai sekarang Kang Emil masih sendiri. Apakah ditinggalkan?

Jadi, kalau kita mau jujur, belum ada yang namanya koalisi-koalisi juga. Itu baru pemberitaan yang sifatnya masih kecenderungan. Contohnya partai A dan partai B bertemu berencana membangun koalisi. Kan belum ada hitam dan putihnya. Kira-kira begitu. Jadi, memang semua calon masih berupaya hari ini. Bedanya saya sudah punya hitam di atas putih dari Partai NasDem. 

Nah, dalam politik juga komunikasi dibangun terus. Hari ini tetap membangun komunikasi ke mana-mana karena pendaftaran kan masih lama ya, bulan Januari. Mudah-mudahan proses dari sekarang ke Januari ada sebuah kesepakatan koalisi-koalisi yang bisa menggenapkan pencalonan yang sudah saya ikhtiarkan. Dulu juga waktu 2013 sama juga. Ada partai yang tarik ulur, ada yang menolak. Saya kira biasa. Jodoh dalam politik itu penuh dinamika dan ketemu formasinya gak ada pernah yang sama. 

Jadi, saya tak terlalu khawatir. Mudah-mudahan ikhtiar ini berakhir pada sebuah proses yang sangat baik seperti yang kita harapkan.

Apakah ada pembagian khusus antara Kang Emil dengan Partai NasDem untuk mempersiapkan Pilgub Jabar 2018?

Kalau pilkada itu kan tiga babak yah. Babak pertama mendapatkan kursi untuk majunya yang genap. Sekarang kan baru lima kursi, butuh 15 lagi. Ronde keduanya adalah memilih pasangan. Ronde ketiganya baru memenangi kompetisi.

Nah, ini masih ronde pertama. Saya kira semua bergerak, tak hanya saya. Sahabat-sahabat saya, orang-orang simpati, termasuk partainya juga. Tidak sendiri-sendiri. Semua dikoordinasikan. Hanya kepastiannya agak susah untuk disampaikan ke publik karena belum berwujud pada selembar kertas berwujud dukungan. Karena definisi pasti itu kalau sudah ada selembar kertas yang menyatakan ‘mencalonkan’ dan ditandatangani oleh pengurus atau DPP.

Apakah optimistis meraih dukungan minimal dari parpol untuk maju di Pilgub Jabar?

Yah, kalau urusan jadi tak jadi itu urusan Allah SWT. Tugas kita sebagai manusia berupaya bekerja. Dengan hitungan logika yang memadai, dengan komunikasi yang sebaik-baiknya. Dan istilah saya, sebelum janur kuning melengkung kan ya, tidak ada kepastian dalam politik. Jadi, saya sih optimis saja. Kalau ya, alhamdulillah, kalau nanti ada dinamika menyesuaikan. 

Generasi milenial potensial di pilgub Jabar, bagaimana menggarapnya?

Milenial itu dijangkau hanya dengan satu hal, yakni melalui media sosial. Jadi saya kombinasi Twitter, Instagram, Facebook, punya 12 juta follower, setiap hari saya posting, setiap hari saya mengedukasi, setiap hari meng-enggage, melaporkan kegiatan. 

Nah, milenial ini dalam lima tahun akan menjadi konstituen yang paling besar kan, sehingga cara supaya dekat apa, ya terus berkomunikasi. Komunikasi hari ini adalah komunikasi digital. Mudah-mudahan dengan interaksi saya dengan generasi milenial, dengan via media sosial ini, bisa membuat mereka menjadi melek demokrasi. Membuat mereka menjadi pemilih yang lebih dewasa.

Dan tentunya bisa memahami bahwa memilih pemimpin di masa depan, fokuslah pada pemimpin yang punya karakter, punya integritas, dan punya karya juga. Tak hanya modal pencitraan, misalkan. Nah, inilah yang menjadi pesan kepada mereka yang milenial.

Bagaimana Kang Emil mengoptimalkan media sosial untuk meraih suara. Apalagi media sosial bisa dibilang sebagai salah satu keunggulan Akang?

Sebenarnya kalau kita bicara ilmiah yah, yang nginternet (menggunakan internet) di Jawa Barat ini hanya 30 persen. Jadi, kalau saya hanya mengandalkan media sosial, artinya saya hanya menjangkau warga Jabar yang 3 persen. Sebanyak 70 persen itu mereka yang mengambil keputusan dari televisi, seperti Metro TV, juga dari silaturahmi. Maka kalau ingin menang sederhana: internet dijaga, yang televisi juga ditayangkan, yang silaturahmi juga dijangkau di desa-desa di mana-mana.

Nah, kombinasi itulah yang menjadi strategi saya saat ini karena saya kuat di kota dan masih lemah di perdesaan.

Mengantisipasi isu SARA yang mengemuka seperti di Pilgub DKI Jakarta bagaimana?

Nah, itu bedanya. Saya tadi punya 12 juta follower. Setiap ada ada rumor yang negatif saya terangkan, saya klarifikasi di saat itu juga. Sehingga tak berkembang beredar ke mana-mana. Dan saya berharap kita ini di Bandung, di Jawa Barat, pilkadanya itu kelasnya yang baik lah ya, kelas dunia. 

Kalau main bola itu ada kelas tarkam atau kelas FIFA. Kalau kelas FIFA banyak kartu merahnya, banyak kartu kuningnya, banyak aturannya, fair play, dan sebagainya. Kalau tarkam mah jebret, yang penting menang. Nah ini sama juga. Demokrasi kita mau menang dengan terhormat atau menang dengan cara yang keras, yang macem-macem bisa aja, tapi kan nilainya lain.

Saya berharap pilkada 2018 adalah pilkada tentang gagasan, pilkada tentang jalan keluar, tentang solusi, tentang mereka yang bisa membawa Jawa Barat jauh lebih maju dengan gagasan, bukan dengan saling membenci atau mengejek.  

Kang Emil punya tim kreatif?

Ada. Tim kreatifnya bekerja di belakang layar. Kita sudah punya sekitar 8 relawan yang tak saya duga. Anak muda, perempuan, tim kreativitas dan sebagainya. Yah, itu mereka bilang mau menitipkna mimpinya ke saya, akhirnya kita koordinasi, kerja sama sebagai relawan saya.


(RRN)