UMKM Bisa Jadi Imun di Krisis Global

Farhan Dwitama    •    Jumat, 19 Oct 2018 19:47 WIB
perekonomian
UMKM Bisa Jadi Imun di Krisis Global
Kopi Talk Persiapan Indonesia menghadapi ‘Evil Winter’ pasca pertemuan IMF-World Bank, Jumat 19 Oktober 2019 di Bouven Ceffie, Bintaro, Tangerang Selatan, Medcom.id - Farhan Dwi

Tangerang: Usaha kecil mikro dan menengah (UMKM) dapat berperan penting menyelamatkan ekonomi Indonesia di tengah ancaman krisis global. Pelaku usaha pun harus mengingat kembali untuk bertahan di tengah gempuran krisis.

Direktur Indef Enny Sri Hartati mengingatkan kembali krisis ekonomi dunia pada 1998 dan 2008. Dampaknya masih membekas di beberapa kalangan.

Ancaman itu muncul kembali di 2018. Pemerintah Indonesia harus menyiapkan imunitas untuk kebal terhadap ancaman.

"Satu di antaranya meningkatkan kekuatan ekonomi di sektor riil berbasis lokal," kata Enny dalam diskusi bertema 'Persiapan Indonesia menghadapi Evil Winter pasca pertemuan IMF-World Bank' di Bouven Ceffie, Bintaro, Tangerang Selatan, Banten, Jumat, 19 Oktober 2018.

Indonesia berlimpah sumber daya alam dan manusia. Potensi pertumbuhan usaha mikro dan kecil juga meningkat. Sehingga, ujar Enny, potensi itu menjadi cara untuk meningkatkan kekebalan ekonomi bangsa.

“Yang penting kita lakukan adalah bagaimana mengonsolidasikan kekuatan, imunitas perekonomian kita yaitu sumber pertumbuhan di dalam negeri. Jadi kita harus bersyukur bahwa Indonesia termasuk negara yang berintegrasi pasar dan juga financial market-nya tidak sebesar negara-negara yang pada 2008 kemarin terkena krisis keuangan global, sehingga ruang ini yang harus kita jaga betul dan harus kita optimalkan,” terang dia. 

Kekebalan itu, lanjut Sri, dimiliki India. Negara di Asia kawasan selatan itu memiliki usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang berorientasi pada produk ekspor.

"Hasilnya, pertumbuhan ekonomi India cukup besar hingga delapan persen," ungkap Sri.

Indonesia, ujar Sri, memiliki potensi dan kekayaan yang sama. Pemerintah harus segera memfasilitasi potensi itu. Yang menjadi target, bukan lagi sekadar mengekspor. Tapi, pelaku usaha mampu mengakses pasar ekspor. Itu bisa mulai dilakukan dengan memenuhi standar permintaan global. Itu mengharuskan konsolidasi antarkementerian.


(RRN)