"Om Peuyeum Om," Cara Bupati Purwakarta Promosikan Tape Khas Bendul

Reza Sunarya    •    Selasa, 27 Dec 2016 10:03 WIB
berita purwakarta
Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi bersama pedagang tape mempromosikan peuyeum khas Bendul (Foto:Reza Sunarya)

Metrotvnews.com, Purwakarta: Demam "Om Telolet Om" yang mendunia dimanfaatkan oleh Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi bersama para pedagang tape atau peuyem khas daerah Bendul, Sukatani, Purwakarta. Mereka mempromosikan penganan khas yang berbahan dasar singkong itu.

Sambil memegang kertas bertuliskan "Om Peuyeum Om" dan "Om Peuyeum Bendul Om," bupati yang akrab disapa Kang Dedi itu bersama para pedagang tape menyapa bus-bus di sepanjang Jalan Raya Purwakarta-Padalarang.

Lalu lintas di sepanjang jalan tersebut terlihat ramai sejak ditemukan retakan di Jembatan Cisomang Tol Cipularang. Pengalihan arus lalu lintas membuat bus-bus yang biasa menggunakan jalan tol beralih ke jalur lama sebelum tol tersebut digunakan.

"Ya, bantu-bantu mempromosikan peuyeum. Lalu lintas di sini kan menjadi ramai kembali karena pengguna jalan menggunakan jalur lama,” kata Kang Dedi.

Salah seorang penjual peuyeum bendul, Hadi (35), merasakan berkah dari pengalihan arus lalu lintas tersebut. Ia yang sehari-hari hanya menjual sekitar 70– 80 kilogram, sejak lalu lintas di depan toko tapenya ramai, ia mampu menjual hingga 100 kilogram tape per hari.

"Sejak Jembatan Cisomang retak, jadi banyak yang mampir ke toko. Ada yang dari Jambi dan Lampung tadi pagi mampir memborong tape saya. Alhamdulillah, omzet naik sejak lalu lintas ini ramai lagi. Sekarang, saya bisa jual 100 kilogram sehari,” kata Hadi.


(Foto:Reza Sunarya)

Kepala Desa Sukatani Asep Sumarna yang juga hadir dalam acara promosi yang dilakukan secara spontan itu, menuturkan, di daerahnya terdapat 171 perajin tape yang menggantungkan hidup dari berjualan tape di ruas Jalan Purwakarta-Padalarang.

Menurut Asep, dalam rangka meningkatkan penjualan, sesuai instruksi Bupati Purwakarta, pihaknya segera melakukan penataan. Mulai dari menjaga kualitas singkong sebagai bahan dasar tape, maupun dari segi infrastruktur toko para penjual.

“Pengelolaan tape kami masih tradisional. Tetapi ini bagus untuk meningkatkan kunjungan wisata dan meningkatkan omzet. Ke depan sesuai perintah Pak Bupati, kami akan melakukan penataan manajemen. Mulai dari pengelolaan sampai bangunan toko milik para penjual tape,” ujar Asep.


(ROS)