Kemenaker Dorong Pertumbuhan Pengusaha Agribisnis

Gervin Nathaniel Purba    •    Jumat, 26 Oct 2018 11:20 WIB
berita kemenaker
Kemenaker Dorong Pertumbuhan Pengusaha Agribisnis
Sekretaris Ditjen Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas Kemenaker Kunjung Masehat. (Foto: Dok. Kemenaker)

Lembang: Pemerintah melalui Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) mendorong peningkatan kompetensi tenaga kerja untuk menciptakan wirausaha mandiri di bidang Agribisnis.

Peluang usaha di bidang agribisnis cukup menjanjikan apabila digarap dengan serius. Tidak sedikit pengusaha sukses yang bergelut di bidang agribisnis kreatif. 

“Pada era liberalisasi perdagangan seperti sekarang, kunci utamanya adalah peningkatan daya saing produk. Begitu pun di bisnis agribisnis,” kata Sekretaris Ditjen Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas Kemenaker Kunjung Masehat, dalam keterangan tertulis, Jumat, 26 Oktober 2018.

Dalam upaya menghasilkan produk-produk yang berdaya saing di pasar internasional, pemerintah memprioritaskan untuk mencetak tenaga kerja kompeten melalui pelatihan vokasi. “Pelatihan vokasi bidang agribisnis di BLK Lembang ini merupakan salah satu contoh upaya pemerintah dalam mendorong tumbuhnya wirausaha-wirausaha mandiri,” kata Kunjung.

Sementara, menurut Ketua bidang Peternakan dan Perikanan APINDO Antonius Joenoes Supit, sedikitnya ada tiga langkah besar untuk meningkatkan nilai tambah dan daya saing produk pertanian Indonesia. Pertama, meningkatkan kapasitas sumber daya manusia (SDM) dan kelembagaan petani.

“Hal ini mutlak dilakukan karena petani sangat rentan terkena dampak dari perdagangan bebas saat ini. Keterbukaan akses informasi, pengembangan inovasi dan iptek, serta perluasan jaringan pemasaran untuk petani pun masih sangat diperlukan,” ujar Supit.

Kedua, memperbaiki kerangka hukum dan kerangka kebijakan. Sinkronisasi kebijakan ini dilakukan agar kementerian/lembaga yang ada tidak berjalan sendiri-sendiri. 

“Selain itu, juga perlu menimbang kebijaksanaan dari negara lain. Hal ini dilakukan karena daya saing itu sendiri tidak berdiri sendiri, melainkan merupakan resulitante dari kebijaksanaan di dalam negeri dan kebijaksanaan dari negara-negara lain,” ujarnya.

Ketiga, perbaikan infrastruktur dan perbaikan rantai pasok (supply chain management). Sebab, hingga kini belum ada rantai pasok yang stabil dan bisa menjamin kepastian ketersediaan barang.



(ROS)